Stop.. Di Sini Kawasan Suaka
Suatu hari terlihat sekumpulan anak kecil tengah berlarian sambil menggenggam sebuah ketapel di tangan mereka. Layaknya seseorang pemburu profesional, mereka terlihat begitu bernafsu untuk mengejar buruan mereka yaitu seekor burung bondol Jawa.
Saat memasuki pekarangan rumah saya, tiba-tiba salah seorang dari mereka berteriak kepada teman-temannya. Eh jangan di situ, nanti kamu dimarahi sama Mas itu!. Lantas saya pun mencoba ke luar dari dalam rumah. Lalu apa yang terjadi?. Ibarat pemburu liar yang lari saat bertemu dengan jagawana. Para pemburu kecil itu pun kabur meninggalkan saya dalam sebuah kebingungan hehe.
Di depan rumah saya terdapat sebuah bangunan kecil mirip sebuah pos kamling yang dijadikan sebagai base camp untuk Wachana. Di situ kami biasa berkumpul, bercanda, bersaudara serta berkarya memberikan sebuah kontribusi kami sebagai seorang pencinta alam. Di sinilah biasanya kami mempraktekkan sebagian materi yang kami dapatkan.
Kami mengenal sebuah kata bernama KONSERVASI. Sebuah kata yang begitu akrab di telinga, tapi banyak juga manusia yang tak peduli. Peduli pada sampah, menanam pohon dan membiarkan satwa liar bebas merdeka, mungkin cuma itu bahasa sederhana kami tentang arti dari sebuah konservasi. Sebuah perkara yang begitu gampang, tapi kadang kita pun enggan melakukan.
Untuk menambah kesejukan kami menanam aneka bunga di kanan kiri tempat tersebut. Melarang setiap anak yang berburu burung di sekitar tempat kami. Mengumpulkan berbagai macam bibit tumbuhan, untuk kami tanam di sebuah hutan kecil tempat biasa kami bermain. Dengan harapan bibit tersebut bisa menjadi sebuah pohon tinggi, yang bisa menjadi tempat bermain sekumpulan burung atau satwa kecil lainnya.
Kami sadar kelak bisa jadi bukan hanya BBM yang akan langka, tapi rindangnya pohon, kicauan burung, indahnya kepak sayap seekor kupu dan aneka satwa liar lainnya pastilah akan menjadi barang yang langka pula jika kita tak melestarikannya.
Jika anda mengenal sebuah kata suaka, tentunya pikiran kita akan melayang pada sebuah hutan rimba yang berfungsi melindungi spesies flora dan fauna bukan?. Apakah benar suaka hanya berlaku di Taman Nasional, Cagar Alam atau kawasan konservasi lainnya?. Apakah kita tidak bisa menjadikan halaman pekarangan rumah kita sebagai tempat suaka?. Meski sebatas melindungi sepasang burung bebas merdeka beranak pinak di atas pohon dalam pekarangan anda. Namun tidak sadarkah anda, jika itulah sebuah konservasi nyata. Ketimbang cuma fasih berteriak "lestarikan alam!", tapi aplikasinya hanyalah sikap "DIAM".
Dulur blogger, jika dalam dunia blogging kita diajarkan pelajaran berbagi lewat dunia maya. Mungkin lebih bijaksana jika kita mau berbagi pula lewat kehidupan nyata. Bukan hanya berbagi dengan sesama manusia, tapi kepada semua mahluk-Nya kita pun mau berbagi pula.
Jika anda mempunyai sebuah pekarangan, cobalah untuk sedikit berbagi. Cobalah untuk memberikan sebuah tempat hidup bagi satu pohon saja di pekarangan itu, karena bukan hanya untuk anda saja bumi ini diciptakan.
Kelak jika pohon itu telah besar, berbagi pula lah dengan burung-burung yang hinggap di atasnya. Berikan mereka perlindungan, berikan mereka suaka, karena saya yakin mereka pun akan mau berbagi dengan memberikan kicauan merdunya bagi kita semua.
Salam Lestari Indonesia..!

Salam lestari...
BalasHapusTulisan yang menarik, lingkungan itu tanggung jawab kita bersama, jadi mari kita lestarikan bersama juga :)
Setuju, setuju, mari kita menanam mulai dari sekarang!
panggil anak-anak tersebut, dan kasih dongeng, kalau kepalanya sendiri yang kena ketapel, sakit toh, kalau ga ada kicau burung gimana, walau mereka setengah mendengar, tapi dia tau Uncle ini bukan buat ditakuti, tapi penyayang,
BalasHapussalam lestari :)
Dirumahku walau diperumahan ada pohon jambu & belimbing kok :) Allhamdulillah banyak buahnya
BalasHapussaking membiarkan satwa bebas dirumah ga ada ternak apapun tuh,hihihi ya lah aku takut melihara hewan takut ga terurus
BalasHapusBurung gereja dan sejenis burung kecil berbulu kebiruan rutin mampir di pohon kersen depan rumah. Alhamdulillah.
BalasHapusSalut buat Mas Akbar, semoga kepudliannya dapat menjadi virus buat kita semua.
BalasHapusSalam.. .
Bintang@
BalasHapussalam lestari mbak.. yuk kita buat sekitar lingkungan kita semakin hijau :13
Ysalma@
boleh kok.. asal syarate ya mereka harus bawa kopi sendiri dari rumah hahaha
Mama Calvin@
bisa dipaketin satu mbak kalau udah berbuah
Lidya@
BalasHapusenggak harus dengan memelihara hewan loh mbak Lid, membiarkan burung bersarang di pohon sekitar rumah kita.. itu juga konservasi loh
Monda@
kalau tante Monda sih enggak usah ditanya deh, so pasti pencinta lingkungan
Mood@
kalau bukan kita yang peduli, lantas siapa lagi yah bang Mood
jagalah alam...jangan kau rusaki...jagalah alam....lentera bumi ini... :D
BalasHapusiyo saya setuju dengan uncle lebih baik diam dari pada koar² saja tapi gak pernah melakukan teori yang di miliki,,,tapi opo pantes uncle jadi jagawana,,hehehe pisss :12
BalasHapusudah jarang sekarang yang peduli sama lingkungan
BalasHapussalut sama sukses selalu.. semoga akan ada banyak burung2 yang datang di taman, eh :13
sukses selalu
Salam lestari juga,Mas akbar...
BalasHapusAku juga blom berbuat banyak buat alam...Salute ^___^
Ah mas Lozz, jadi teringat masa kecil dulu berlarilari di sawah/kebun mengejar capung dan kupu-kupu :)
BalasHapusdi belakang rumah, setiap pagi dan sore , masih suka terdengar kicauan burung kutilang ,Uncle.
BalasHapusalhamdulillah ...........
salam
kang, saya lagi nyari kunang2, apakah di situ ada?? di tempat saya sudah nda ada soalnya..
BalasHapusSetuju Mas...dengan menanamlkan pepeohonan di pekarangan rumah, disamping membuat asri juga sejuk dipandang mata, memberikan manfaat pula buat mahluk hidup lainnya.
BalasHapusSALAM hangat dari KEndari... :16
Betul Mas..kamipun sangat menyarankan hal itu juga dilakukan di lingkungan puskesmas, agar bisa menjadi contoh bagaimana caranya bisa menumbuhkan pola hidup bersih dan sehat bagi masyarakat.
BalasHapusSALAM hangat dari Kendari. 8)
wow.....konservasi itu begitu perlu untuk kehidupan kita. Setuju!
BalasHapusjangan sampai cucu2 kita lihat hewan kupu2 atau gajah dari gambar di buku!
Salam,
Seru jadi Guru :)
di rumahku juga banyak pohon loch...dan Alhamdulillah bermanfaat utk warga sekitar. Misalnya kalo pohon mangganya beruah, sebagian tetangga kebagian, begitu juga dgn pohon jambu. Bisa rujakan klo jambu sama mangga sama2 berbuah. udah gitu banyak juga yg suka minta daun sirih utk obat, pohon cincau suka dibeli abangnya (soalnya dikasih gratis ngga mau dianya), ada pohon ciremai juga yg sgt bermanfaat utk ibu2 yg lagi hamil muda, trs ada pohon kembang teleng yg berguna utk mata bayi yg baru lahir....
BalasHapusSkydrugz@
BalasHapusloh kok kayak lagu nasyid?
Sofyan@
kalau dilihat dari itemnya wis pantes kok haha
Nitawanita@
makasih mbak Nita...:13
Putri Baiti Hamzah @
salam lestari juga Put:12, yuk dimulai sekarang berbuat sesuatu bagi bumi
Orin@
BalasHapusnah sekarang udah mulai jarang kupu ma capung berkejaran bebas kan mbak
Bundadontworry@
Alhamdulillah, kalau di sekitar rumah Bunda sudah bisa jadi kawasan suaka
Mabrurisirampog@
Alhamdulillah masih ada Kang, kalau malam hari
Tusuda@
betul Bli..kesejukan juga bisa mmberikan energi positif bagi psikologis kita ya Bli
Puskel@
BalasHapussukses buat progamnya, semoga warga di sana semakin peduli dengan lingkungan kita
Erfano Nalakiano@
nah itu yang ditakuti.. jangan sampai satwa hanya menjadi sebuah sketsa
Nia@
wah saya sepertinya punya gambaran nih, jika ruimah mbak Nia dah sejuk oleh aneka tumbuhan
Saleum,
BalasHapusAndai semua kita mencintai alam dan hewan yang indah itu, insya Allah lestarilah negara kita ini. yang penting gak cuma teriak aja ya kang....
saleum dmilano http://i661.photobucket.com/albums/uu338/lozz79/stopglass.gif
cintai alam seperti cintai diri sendiri :)
BalasHapusCerita menarik sangat
BalasHapusku suka keperdulian...
artikelmu ok banget :-)
jangan hanya bisa bersenandung:Lestari alamku lestari tetanggaku
BalasHapusSalam lestari, Mas Lozz!
BalasHapusAh indah nian bahasanya... insya Allah siapapun yg mbaca bisa tergerak hatinya utk menanam minimal satu pohon... :-)
Semoga kelak justru anak2 kecil itu akan tertarik dengan kegiatan kalian, terlibat dalam memknai sebuah kata KONSERVASI. Salam Lestari...
BalasHapusselamat melesraikan lingkungan hidup Kang
BalasHapusjaga alam kita...kasihan anak cucu kalo besok gak kenal lagi indahnya kicau burung....
BalasHapusYang aneh lagi, ditempatku sekarang lagi musim senapan angin. Tahu apa yang jadi sasaran, burung gereja (manuk peking) dan setelah di tembak dibiarkan mati tak terurus. Betul2 pembunuhan yang sangat di murkai oleh Allah SWT. :17
BalasHapusSalam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan
di desaku saja sudah tak pernah kedengeran suara kicauan burung dipagi hari, :(
BalasHapusJangankan burung, klo perlu semut pun jangan sampai dibunuh biarpun makan gula bertoples-toples, lha klo ga ada gula semut mau makan apa?
BalasHapuskakekku sdh sejak lama melepaskan semua burung yg ada dalam sangkar...
BalasHapussebuah usaha preventive yang patut diacungi jempol dua...
BalasHapusjarang-jarang ada pihak yang mau peduli seperti ini...
alhamdulillah, rumah saya diteduhi pohon-pohon mangga dan rambutan, kang. adeeemmm....tapi sekarang sedang musim ulat bulu itu. haduuhh...repotnya, kang....tuh ulat pada beterbangan ke mana-mana dari pohon-pohon ituh....krembik krembik...hhhiiii...jijik...
BalasHapusbagaimana kang, solusinya ? apakah harus kutebang pohon-pohonnya ?
Oiya, saya sudah tambahkan lagi 1 koleksi puhun. 2 puhun mahoni di samping rumah. besok gede bisa tak tebang buat kusen jendela. hahahaha....
Dmilano@
BalasHapusberteriak dan bertindak yang bener ya Bang?
Fonega@
betul sekali.. seratus hehe
Anisayu@
makasih mbak Anis
Riez@
hahaha salam gawe Lestari yo kang
Lyliana Thia@
BalasHapusaamiin semoga saja mbak Vania, eh Thia
Mechta@
aamiin lagi...
Nyach MMS@
matur nuwun buat semangatnya Kang
Aina@
yah semoga saja mereka enggak mendengar dari musik MP3 yang mereka download dari dunia maya ya mbak
Sugeng@
BalasHapusnah itu yang disesalkan Cak, kalau buat ngasah keahlian bedil kan banyak tuh yang dipake sasaran.. kenapa mesti satwa?
Tunsa@
apalagi di kota yo Kang
Yuni Cute@
hehehe penyayang satwa juga mbak Yuni ternyata
Adetruna@
wah kakek Mas Ade pencinta alam nih.. salut
Choironnangim@
itu kan sudah jadi kewajiban kita semua Kang yang hidup numpang di alam ini
Aryna@
loh..loh jangan ditebang dong mbak.. kalau ulat mah hama tuh.. apa perlu saya kesana buat bersihin pohonnya?
Kata2 terakhir itu, berbagi tak hanya di dunia maya, tetapi dunia nyata. Tapi, terkadang banyak yang 'berat' melaksanakannya :16
BalasHapusIde yang bagus untuk membuat lingkungan kita sebagai kawasan suaka, kalau bukan dari diri sendiri lantas siapa yang akan peduli terhadap sesama ciptaan-Nya.
BalasHapussalam lestari buat mas.... larnag perburuan liar kecuali BABI
BalasHapusSeandianya banyak orang seperti Kang Lozz dan sahabat dari Wachana, mungkin bisa membuat bumi bisa sedikit tersenyum.
BalasHapusSemangat Kang, wong nandur bakale ngundhuh... :)
Kaget@
BalasHapusapa karena mereka sudah menganggap dunia nyata juga dunia maya ya Mas hehe
Dwi@
ya siapa lagi mas Dwi, kalau bukan saya, anda dan kita semua
Rodes berbagi informasi@
salam lestari...
Sukadi@
suwun Kang.. yuk nandur nandur
Jadi anak-anak itu takut sama Mas Akbar ya? Hehe.
BalasHapuskang akbar tuh baek kok...
BalasHapusbiarpun wajahnya terkesan serius
tapi hatinya lembut dan penuh kasih
pastinya seorang pecinta alam..'
sedj
Gak ada gambarnya nih om. Padahal aku tadi sempat membayangkan suasana sekitan pos... . pasti sejuk dan asri
BalasHapusweee stop pengrusakan lingkungan, termasuk binatang harus disayang ya kang,
BalasHapussaya perkenalkan ada yang baru Kang
anda hebat sekali dek .. :18
BalasHapusSetiap pagi saya mendengar ramai burung berkicau, bukan dari pohon-pohon di sekitar rumah, tapi dari sangkar yang tergantung berjejer di salah satu rumah tetangga. Apa komentar bang Akbar tentang pecinta burung seperti tetangga saya tersebut?
BalasHapusAh bener itu mas... :)
BalasHapustapi sayangnya dirumahku sudah tak ada lagi pekarang buat menanam pohon. :(
Tambah essip ae rek;
BalasHapusSalam Takzim
BalasHapusSaya ga punya pekarangan mas, jadi saya tanam pohon hias saja di pot bolehkan
Salam Takzim Batavusqu
ayo nandur ayo nandur,sam aku njaluk kembange yo, gawe ditandu nang ngarepsekretku, hehehe
BalasHapushaiii salam kenal... aq da follow u di 87.... ku tunggu folbacknya ... oya nice post
BalasHapusHmm... Mas, aku belum pernah menanam pohon sama sekali... karena geli sama cacing...
BalasHapusTapi mungkin akan kucoba.. :)
Ayo! kita mulai membuat ruang konservai di rumah sendiri ...
BalasHapusHarusnya semua rumah (landed-housing) punya pekarangan ya... wajib beberapa persen dari luas total lahan rumah harus berupa tanah, tak boleh perkerasan... :(
BalasHapus