Apa Cukup Hanya Ramadhan?.
Idul Fitri sudah lewat beberapa hari, tapi perbincangan tentang lebaran dua versi masih saja terjadi di sana-sini. Ada seorang ibu yang mengeluh karena jerih payahnya di dapur berantakan gara-gara lebarannya diundur. Seorang remaja merasa tak terima, karena acara bareng si dia menjadi tertunda.
Di satu sisi saya merasa trenyuh dengan kondisi tersebut. Lebaran yang harusnya diwarnai satu semangat untuk merayakan sebuah kemenangan, namun kini terasa berbeda karena adanya sebuah perbedaan waktu saat merayakan. Jujur saya tidak begitu tertarik untuk terlibat pro kontra lebaran dua versi. Bagi saya perbedaan adalah sebuah rahmat yang harus disyukuri atau dicarikan sebuah solusi jika ternyata dirasa bisa dicarikan jalan yang terbaik. Bukan malah sebaliknya diperuncing dengan sebuah opini-opini pribadi, apalagi opini tersebut muncul dari sebuah pendapat tanpa ilmu.
Media televisi sepertinya juga tak mau ketinggalan mengangkat fenomena lebaran dua versi. Saling menyalahkan dan mengklaim diri benar. Pemerintah dituding tak becus merangkul ormas-ormas terkait. MUI dianggap pula tak tegas dengan masalah umat. Bahkan lebih parah lagi, kalangan masyarakat akar rumput pun ikut andil bicara. Memberikan opini tanpa dasar ilmu versi mereka. Tapi yo wis lah, saya rasa inilah resiko hidup di udara reformasi. Semua berhak dan bebas beropini dengan pendapat masing-masing. Saya pun bersyukur alhamdulillah, karena setidaknya pro kontra lebaran dua versi kali ini bisa sedikit meredam gempuran pertanyaan tentang status anak dan istri saat saya melakukan safari lebaran haha.
Saya pikir semua mempunyai dalil dan patokan yang dipakai untuk menentukan kapan mereka merayakan lebaran. Namun jika saja ada yang ngotot mencari siapa yang salah, saya rasa yang salah adalah yang sudah merayakan lebaran sebulan kemarin alias mampu berpuasa tapi tak mau menjalankannya.
Kita sama berharap semoga ke depan pemerintah dan pihak-pihak yang terkait bisa menemukan sebuah solusi terbaik agar perbedaan lebaran tidak terjadi kembali. Kalau pun masih ada semoga juga tidak terlampau dibesarkan, bahkan sampai mengeluarkan pendapat jika ini adalah perpecahan umat.
Semoga saja kita tidak memaknai lebaran sebagai ajang menang-menangan. Namun jika saja ada yang masih ngeyel, mungkin ada baiknya kita mengkaji kembali apa yang sudah kita perjuangkan selama sebulan kemarin. Ramadhan kemarin adalah momentum bagi kita untuk menempa akhlak dan rohani ke arah yang lebih baik. Ibarat seorang pencinta alam, Ramadhan adalah sebuah diklat penempaan jiwa dan mental mereka sebagi seorang pencinta alam. Yang hasilnya diharapkan akan diaplikasikan dalam kehidupan mereka saat bermasyarakat.
Ramadhan adalah bulan diklat rohani kita, dan hasilnya akan kita aplikasikan ke sebelas bulan ke depan. Jadi pertanyaan sekarang, apakah benar kita telah menjadi seorang pemenang?.

kita tunggu saja....
BalasHapus11 bulan lagi... masih menang nggak?
Kalau kurang sekarang puasa syawal, Mas. :)
BalasHapusrasakan aja sendiri apakah kita ini sudah menjadi pemenang...
BalasHapusseperti kata mas Asop puasa syawal aja kalau kurang... :D
Iya ya. . . Perasaan dr dl perbedaan itu ada tp ga ampe dibesar2kan kaya tahun ini dech. Kalo saya setuju ama pendapat mas lozz aja dech
BalasHapusMeskipun tgl 30 udah lbrn dl xixi
taqabbalahhu minna wa minkum. mohon maaf lahir batin ya mas :)
BalasHapuswah² ikut prihatin juga nih Uncle nih, tapi yang terpenting kita sudah berpuasa bagi yang tidak berpuasa maaf gak mau komnetar karena yang tau jawabannya adalah "para pelakunya"
BalasHapusSepakat mas Lozz, berhasil atau tidaknya Ramadhan kemarin tercermin dari sikap kita setelahnya ya :)
BalasHapusMas Lozz, walaupun terlambat, mohon saya dimaafkan atas semua salah dan khilaf yaa ^^
semoga pembicaraan nanti untuk menentukan permulaan suatu tanggal hijriyah dapat dibicarakan berdasarkan dalil hukum yang tepat mas dan mendapat keputusan yang tepat bukan sekedar untuk kepentingan golongan
BalasHapussalam dari pamekasan madura
Ya memang..., lebaran kemarin sempat 'ramai' dengan 'diundurnya' 1 syawal oleh pemerintah. Bisa sebagai kenangan lebaran yg tak terlupakan deh :)
BalasHapusterus berusaha jadi pemenang :) semoga aja.. karena kemenangan sebenarnya yang terlihat 11 bulan setelah ramadhan^^
BalasHapusminal aidin walfaizn,,, :)
BalasHapusWah mas Lozz, kalau saya sih nggak terlalu mempermasalahkan adanya perbedaan hari raya tersebut.Malah harusnya bisa sebagai contoh, bahwa sebenarnya kita itu bisa bersatu walaupun kita ada perbedaan2 bahkan perbedan waktu hari raya.Toh yg penting bukan hari raya nya itu, tapi makna dari sebulan puasa tersebut.Bisakah itu menambah kesadaran,meningkatnya solidaritas sosial, terhadap kaum yg terpaksa lapar bukan karena puasa tetapi karena tidak cukup punya makanan.
BalasHapusSemoga semangat ramadhan tetap ada & menyemangati langkah kita di 11 bulan yad dan semoga berjumpa dengan ramadhan tahun2 mendatang... amin...
BalasHapusJumpa lagi MAs, Minal Aidin walfaizin, mohon maaf lahir batin ....
BalasHapusapa ayang kita pelajari di bulan Ramadhan seharusnya dilaksanakan juga pada bulan syawal dan bulan-bulan selanjutnya. Tidak cukup ramdahan saja. bulan-bulan yang lain harus terus konsisten sehingga ketemu ramadhan berikutnya untuk peningkatan,
BalasHapustp aku ikut hari raya idul fitri 1 syawal 1432 H pas hari rabu tgl 31 agustus aku yakin, perdana mentri Malaysia aja minta maaf dg rakyatnya salah menentukan jd yg benar Indonesia.....
BalasHapushebat kan Indonesia tepat sangat....
minal aidin walfaizin
maaf lahir batin ya... :)
kalo aku ikut lebaran versi pemerintah aja lahh....soale alat2nya kan canggih udah gitu yang melihat hilal para ahli yang ilmunya tdk perlu diragukan lagi....dan diperkuat dgn dalil yang benar....
BalasHapushmm, aku malah bersyukur lebaran versi pemerintah tgl 31, jadi bisa solat ied bareng ibu,hahhaaaa..
BalasHapussemoga masih ketemu romadhon depan ^_^
sdetuju kang.. emang uda tugasnya pemerintah tuhh :(
BalasHapusTaqabbalallahu minna wa minkum, Shiyamana wa Shiyamakum .
Ja’alanallaahu Minal Aidin wal Faidzin
admin PSHolic mengucapkan
Selamat Idul Fitri 1432 H
Sekalian Memohon maaf lahir bathin
Salam sahabat
BalasHapusMaaf telat
Moho. Maaf lair bathin yo
hahahahahahahahaha..............menggelitik dan tepat, selamat idul fitri dulur
BalasHapushmmmm... aku nulis di blog soal beda hari raya. ini linknya ... ada sekelompok orang yang memang suka ngamatin tentang konspirasi untuk memecah belah umat Islam http://safirasafitriaulia.blogspot.com/2011/09/zionis-israel-hembuskan-rumor-tidak.html
BalasHapusdimaafkan saja perbedaan ini uncle;)
BalasHapusAch... kan masih ada ramadhan yang akan datang, atau mau ramadhan setiap bulanya? hehehehe
BalasHapusLebaran dua versi diperbicangkan bahkan dipermasalahkan. Tapi melihat umat yang katanya Islam tapi tak menjalankan sholat dan puasa Ramadhan didiamin aja. Seakan-akan yang sudah berpuasa sebulan penuh itu hanya karena lebaran yang berbeda menjadi salah. Padahal perbedaan ini diprediksi akan terjadi lagi tahun depan hingga 2014 entah di awal ramadhan ataukah syawalnya.
BalasHapusharusnya lebaran dua versi biar sajalah begitu apa adanya ya... yg penting rukun aja...
BalasHapushmm... masalah menang/nggak... entahlah... yg tau hanya Tuhan toh, ya nggak Mas Lozz... qta hanya menjalankan semaksimal mungkin... insya Allah...
buener buanget tuh kata mbak Lyliana Thia ... kita cma bsa menjalankan apa yg Dia printahkan saja, urusan di trima to nggaknya kita cma bsa berdoa,sabar, pasrah ,,,, dan ikhtiar ajjj ma tawakkal ...
BalasHapusNah itulah Mas.. klo lebaran dua versi sih memang tak masalah bagi umat yang merayakan di Indonesia, sing penting riyoyo.. yang jadi masalah itu apakah ada intrik politik nggak ketika Pemerintah memutuskan jatuhnya 1 Syawal, klo ada intriknya kasian rakyat juga kan.. *kok jadi sendi gini..* :D
BalasHapusTulisannya baguuuusss banget...menenangkan, mendinginkan...semoga 11 bulan ke depan kita tetap menjadi pemenang.
BalasHapusAmin.
sekedar menambahkan:
BalasHapusPemenang adalah yang konsisten dan istiqomah dalam kebaikan.Seperti menghidupkan ruh ramadhan.Bukan malah sebaliknya menjadi jauh dari Tuhan setelah Ramadhan dsb.