Antara Bapak, Anak dan Burung Gereja
Kali ini saya akan berbagi sebuah video yang saya ambil dari Youtube. Sebuah video karya sutradara Yunani bernama Constatin Pilavios. Durasinya pendek, tapi pesan moral yang disampaikan di dalamnya, saya rasa sudah cukup untuk dijadikan sebagai media taffakur tentang apa yang sudah kita berikan bagi orang tua kita.
Video yang berjudul "What is that?" ini menceritakan sebuah adegan antara seorang bapak tua dan anaknya yang tengah duduk di sebuah taman depan rumah mereka. Si anak nampak membaca sebuah surat kabar, sedang bapaknya hanya diam mendampingi di sebelahnya.
Tiba-tiba muncul sebuah burung gereja dan hinggap lalu berkicau di dekat mereka. Si bapak yang mungkin sudah mengalami rabun pada penglihatannya, terlihat penasaran dengan suara tersebut. Lalu mencoba bertanya pada anaknya.
"Apa itu?", tanya si Bapak.
"Burung gereja", sahut anak tersebut, lalu melanjutkan membaca korannya.
Burung gereja tersebut masih tak beranjak dari tempatnya dan masih terus berkicau. Membuat si Bapak makin penasaran dan mengemukakan sebuah pertanyaan yang sama pada anaknya, "Apa itu?". Si anak mulai nampak kesal dan menjawab "Sudahkah kukatakan padamu ayah, jika itu adalah burung gereja". Lalu dia kibaskan korannya hingga menimbulkan bunyi yang mengakibatkan burung gereja itu terbang menjauh.
Tak seberapa lama kemudian muncul lagi seekor burung gereja dan berkicau kembali di dekat mereka. Bapak tersebut kembali bertanya, "Apa itu?". Si anak semakin kesal dan menjawab dengan suara tinggi.
"Burung gereja bapak, burung gereja!". Si anak pun kemudian mempertegas jawabannya dengan mengatakan, "b-u-r-u-n-g g-e-r-ej-a.!".
Namun kenapa tiba-tiba si bapak kembali bertanya, "Apa itu?", yang membuat si anak menjadi naik pitam dan membentak si bapak.
"Apa yang kamu lakukan bapak, sudahkah berulang kali kukatakan itu adalah burung gereja. Apa anda masih belum paham?".
Si bapak pun lalu beranjak dari tempat duduknya dan ditanya oleh si anak, "Mau kemana?". Bapak tersebut tidak menjawab. Hanya mengisyaratkan agar anaknya menunggu sebentar. Lalu si bapak berjalan menuju ke dalam rumahnya.
Beberapa menit kemudian si bapak nampak keluar rumah sambil membawa sebuah buku diari. Dia kembali duduk di samping anaknya. Membuka sebuah halaman pada diari tersebut, lalu dia berikan pada si anak agar dia membacanya. "Keraskan!", perintah si bapak saat menyuruh anaknya membaca. Si anak lalu membaca diari tersebut dengan suara keras yang juga didengar oleh bapaknya.
"Hari ini anak bungsuku yang beberapa hari lagi akan berumur tiga tahun, sedang duduk di taman ketika seekor burung gereja berkicau di depan kita
Anakku bertanya 21 kali tentang apa itu yang berkicau di dekatnya.
Aku pun menjawabnya sebanyak 21 kali, jika itu adalah...burung gereja.
Aku selalu memeluknya setiap kali dia bertanya dengan pertanyaan yang sama.
Berulang-ulang, tanpa rasa marah, karena aku merasa sayang kepada bungsu kecilku yang tak bersalah ini."
Si anak kemudian menutup diari itu dan menyadari kesalahan yang baru dia perbuat. Lalu dia merangkul dan mencium dengan penuh perasaan sayang terhadap bapaknya. Sebuah ending yang saya rasa telah berhasil mrekes ati saya.
Sedikit saya mengutip Kalam Illahi yang disampaikan Sang Jawamiul Kalim Muhammad SAW.
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (al-Quran Surat al-Isra ayat 23).
Dalam realita kehidupan sehari-hari mungkin kita pernah lihat sebuah perlakuan tak pantas yang dilakukan oleh seorang anak kepada orang tua mereka. Membentak, mengacuhkan menelantarkan, bahkan tak jarang pula kita mendengar berita tentang sebuah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak terhadap orang tuanya. Padahal Kitab Suci sudah menyatakan jika cukup hanya dengan sebuah sanggahan "AH", hal itu sudah dikategorikan sebagai perbuatan yang tak baik bagi orang tua kita.
Apakah kita tidak sadar jika tanpa curahan kasih sayang mereka kita tak kan pernah menjadi apa-apa?. Membesarkan tanpa mengharap imbalan. Menyekolahkan agar kita memiliki kepandaian. Memberi makan saat kita dilanda kelaparan. mengobati saat kita tersakiti. Menutupi segala kekurangan serta aib akibat kenakalan kita. Lantas kenapa masih ada sebuah bentakan, padahal mereka sudah memberi kita banyak sekali pengorbanan tanpa imbalan?.
Dulur blogger, dalam kehidupan pribadi bisa dikatakan sedikit sekali saya merasakan sebuah kasih sayang dari kedua orang tua kandung. Saat ABG dulu saya sering menyalahkan semua kenyataan yang saya dapatkan. Namun lambat laun akhirnya saya menyadari dan mensyukuri semua skenario Illahi yang telah digariskan bagi saya di dunia ini. Secara kasat mata mungkin tak banyak materi atau perhatian yang saya dapatkan. Namun ada sebuah jasa dari kedua orang tua saya yang tak mungkin bisa saya balas dengan apapun juga. Yah, tanpa ada rahim dari seorang ibu dan tanpa ada sponsor dari seorang bapak, mungkin ranah blogsphere tak akan pernah ada nama Lozz Akbar di dalamnya.
Semoga tulisan ini bisa jadi sarana perenungan bagi saya, anda khususnya adik-adik saya untuk lebih menyayangi lagi para orang tua kita. Sebab kita pun kelak akan seperti mereka. Kita hanya tinggal menunggu giliran. Akan tiba masanya warna putih yang akan menghias rambut kita. Akan s`mpai waktunya gigi kita akan tanggal satu demi satu. Sendi-sendi tulang pun akan sulit digerakkan, hingga untuk urusan buang hajat pun akan menjadi sebuah pekerjaan yang begitu melarat. Jadi kenapa saat muda kita menjadi orang yang pongah?, padahal tak lama lagi kita akan menjadi renta dan lemah?.
Note : Jika penasaran dengan videonya.. Monggo saya persilakan ditonton rame-rame. Matur nuwun..

Saleum,
BalasHapusIndah sekali pembelajaran dari kisah ayah dan anak tersebut kang. aku jadi Rihoen pada bapakku kang....
TV Essip memang essip...
BalasHapusHidup memang sinetron sam...hehe
apakah setelah kita dewaasa pantas untuk bersuara keras karena pertanyaan beliau yang dengan peluhnya menjadikan kita seperti sekarang
BalasHapusdengan kasih sayangnya menjadikan kita sebagai manusia yang dapat menghirup segarnya udara pagi
Sedih membacanya.. Mengingatkan saya pada banyak hal..
BalasHapustipinya bener Essip tapi buffer euy :( kaya wis tau moco artikel sing mirip gie koh...
BalasHapusTadi bacanya dr blog masbro, dan hmmm... nice mas. saya suka. terlebih krn ini membahas soal bapak, sosok teraneh yg pernah sy miliki di dunia ini.
BalasHapusterimakasih untk pencerahan paginya :))
Dan kejadian antara ayah & anak itu, kini terjadi dalam hidup saya.
BalasHapusBapak yg sudah sepuh, sering berulang kali menanyakan satu hal yg sama dalam satu waktu. Padahal sudah di jelaskan beberapa kali. Hiks .. kadang saya belum bisa sabar menghadapi sikap bapak itu.
Waduuhh, mengharukan... Jadi teringat memory bersama Alm.Ayah saya dulu, :-)
BalasHapuskemarin aku baca cerita ini distatus FB temanku, eh kok disini ketemu lagi disni..
BalasHapus"birrul walidain"
Matur nuwon Mas
meski sudah beberapa kali membaca kisah seperti ini, kali ini saya merinding.. tulisan seperti ini hendaknya slalu jadi peringatan bagi kita semua.. :(
BalasHapusmakasih perenungannya pak satpam
sediihh :'( Nay belum bisa bahagiaan orang tua T__T
BalasHapusKang..., tulisan ini luar biasa. Benar2 mampu membuatku terharu dan merenungi apa yg telah aku lakukan selama ini utk kedua orang tuaku. Apakah aku telah perlakukan mereka sebaik yg mereka lakukan dulu padaku? Makasih bangetn ya sharingnya.
BalasHapusterpaku disini..........mrebes mili airmataku mas,ingat belum apa2 yg kulakukan buat ortu tp mereka dah keduluan meninggal :(
BalasHapushiks ... *mlipir ke rumah bapa*
BalasHapusbetul juga pepatah kasih bapak/ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah, ya Alloh :Allohummaghfirli dunubi waliwalidayya warhamhuma kama robbayani soghiro, Amin
BalasHapusDmilano@
BalasHapusRihoen? artinya apa tuh bang? rindu ya
Santri Kentir@
diterima dengan jernih yo sam sinyal TVnya dari sana :)
Citro Maduro@
semoga kita atau anak-anak kita dijauhkan dari hal demikian yo kang
Masbro@
lah kok malah sedih sam? :(
Sobat Bercahaya@
kalau udah baca, berarti tinggal prakteknya nih kang ;)
Syammatahari@
BalasHapussama-sama mbak, kita saling mengingatkan ya
Dey@
butuh kesabaran emang bu Dey.. menghadapi orang tua yang sudah sepuh.. oh ya met ultah ya
Gandi R. Fauzi@
yang penting sekarang doanya mas Gandi, sebagai tanda bakti kita
Sofyan@
sami-sami sam :)
WaroengBlogger@
merinding? aw..aw emang mbahas opo ya saya hihi
Naya Elbetawi@
BalasHapussaya yakin Nay bisa kok :)
Mimi Radial@
jangan putus do'a mbak.. saya rasa ortu mbak akan tersenyum di atas sana
Nicamperenique@
loh.. cup..cup dong mbak Ni
Thanjawa Arif@
aamiin.. matur nuwun yo kang
cerita untuk orang tua tidak akan pernah ada habisnya, buat pelajaran nih ^^
BalasHapusSaya pernah membaca dan mendengarkan kisah ini, dan hal ini membuat hati untuk selalu dapat instropeksi diri dengan perjuangan orang tua untuk anak. Semoga hal ini dapat menjadi nasehat kebaikan untuk kita semua dan bermanfaat untuk kita semua.
BalasHapusSukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog
Asalamu'alaikum Kang
BalasHapusLama ga mampir dan bersua, sepertinya semua jauh berubah, semua jauh lebih baik.
Semoga tetap konsis kang. Maaf ga nyambung nih sama post
anak2 tuh paling suka mengulang pertanyaan ya. begitu pula mertua saya :)
BalasHapusGak mau liat lagi mas,, bikin nangis terus, kalo liat ini,,,
BalasHapusselalu bikin aku merasa, ah, aku belum bisa apa2 buat orang tua,, malu.. :(
trims ditulisin lagi, pencerahan yang luar biasa,..
Saya mau komentar 21 kali tapi nggak enak...
BalasHapusjadi pengen pulang
BalasHapusbiar bisa cerita tentang burung gereja ke anak anakku...
Astagfirullah ampunilah dosa hamba terhadap kedua ortu hamba....video yg sangat menyentuh kang
BalasHapusOrang tua mu adalah wakil yang maha kuasa dibumi ini, sekalipun dia berakta keras kepadamu bukan karena dia benci dan tidak suka, justru karena sayang dan cintanya, but the son? ask your self.....wkwkwkwkkw....wis iso londo aku.
BalasHapusMumpung lihat, sepertinya menu diatas perlu diperbaiki, mungkin width-nya dibuat auto atau sedikit diperlebar...
BalasHapusHmm...
BalasHapusya ampun, Mas... nih air mata belom berhenti juga mengalir...
aku terharu loh bener dech bacanya^^
BalasHapusJiah Al Jafara@
BalasHapussama-sama dijadikan pelajaran Jiah
Indra Kusuma@
aamiin, karena tanpa perantara orang tua, kita tak kan pernah ada kan Kang
Mas Tony@
eh ada dulur lawas, kabar baik nih Mas Ton.. semoga anda sukses juga ya disana
Lidya@
intinya dengan kesabaran ya mbak untuk menghadapi mereka
Advrtiyha@
hehehe oke deh.. bukankah ingat mengingatkan adalah sebuah kewajiban mbak
Marsudiyanto@
monggo pak Mars, tapi gak ada gedang gorenge loh pak disini hehehe
Rawins@
BalasHapushehehe.. ati-ati kalau pulang kang Rawins
Kang Riez@
matur nuwun kang..
Die@
hahaha Londo lokal Om.. wis tak ganti om template nya, soale kemarin sulit dikasih aneh-aneh hehehe.
ngombe disik Om
[im]http://www.animationplayhouse.com/sm_beer_drinking.gif[/im]
Kakaakin@
cup..cup dong Kak :)
Kamalz@
jangan sampai nangis loh kang
bolak balik baca kisah ini, dan begitu menyentuh skali, mengingatkan pada diri saya khususnya, bahwa memang benar, apa yang ada dlm kisah tersbut di atas, juga pernah dilakukan oleh saya. :(
BalasHapussmoga ini menjadi pembelajaran untuk bisa lebih baik bersikap thd orang tua ya kang.
akhirnyaaaaaaaaaaaa bisa komen jugaaa....
BalasHapusaku sudah ga terharu lg kalo skrg soalnya bacanya udh dr kmaren2.... tp keinget trs sm cerita ini, mengena bgt
Cerita ini mengingatkan saya pada almarhum bapak saya. Belum sempat saya membalas kasih sayangnya, bahkan mengucapkan terima kasihpun belum. Beliau keburu meninggal ditabrak orang.
BalasHapusMakasih mas Lozz. Jarang mata ini bisa berkaca-kaca...
pesan yang sarat makna .. trenyuh sekali saya mengikuti kisah ini ... jadi jauh melamun inget orang tua ..
BalasHapusTrims mas ...
Salam :)
itulah kenyataannya.. Cinta org tua thd anak tiada batas.. Tp terkadang ada anak yg membatasi cintanya kpd org tua..
BalasHapusRenungan buat kita semua.. TFS ya.. :)
Wuaaah, keren sekarang headernya, Kang. Ada animasinya... gimana sih buatnya....
BalasHapusWong koq pintermen sih iki, mangane jane opo tah. Suk dadi bojone sopooo ki, bejo banget suk sing biso ndampingi sampeyan cak. Lanange jagad temenan je... :D
==================
Postingane marai nggrentesss...
"Allohumaghfirlii,,, wali walidayya warhamhuma ka maa robbayaani shoghiiiro. Amiin"
hiks.... jadi ikutan sedih baca cerita diatas :(
BalasHapusterimakasih Uncle utk kisah yg mengharukan sekaligus mengingatkan pd kita semua, betapa sebenarnya kita masih sangat jauuuuuh dan kurang sekali kesabaran dlm menghadapi ortu kita sendiri .
Semoga kita bisa lebih memperbaiki diri dgn selalu memohon pada Allah swt ,aamiin
salam
kaya judul lagu nih
BalasHapusMabruri@
BalasHapussemoga kita bisa terus berbakti pada orang tua kita ya kang
Mauna@
alhamdulillah bisa komen deh.. tuh udah saya bikinin formatnya kalau nanti mbak Mauna kesulitan komen lagi.. makasih ya mbak
Budiastawa@
doa mungkin itulah cara yang terbaik buat ortu kita yang telah tiada Bli
Pakies@
aamiin kang.. kelak kitapun akan renta seperti mereka..
Yayats@
sami-sami kang Yayat.. salam buat Aiko ya
Ke2nai@
BalasHapussami-sami mbak.. oh ya met ultah untuk perkawinannya ya.. semoga sejahtera selalu
Samaranji@
hahaha ono-ono wae sampean kang.. golekno bojo lah aku wkwkwk
Serambipuisi@
matur nuwun Bunda.. semoga kita selalu ingat, jika tanpa perantara orang tua, kita tak akan pernah ada di dunia
Jay Bona@
hahaha judul lagunya siapa Bro.. bang Haji Rhoma ya? hahaha
Aku baca cerita ini berkali2.. Dan jd nangis tiap kali baca... Perasaan yg sama mgkn dgn yg kurasakan saat menerima buku harian orangtuaku dulu saat mengasuh aku.. Kejadian pemberian buku diary itu udah sejak aku smp... Dan skrg aku sering lupa dan hilang kesabaran saat menghadapi orangtua yg bicara berulang2.. Duh dosanya aku.. Memang perlu diingatkan terus dan terua dan terus... Makasih Uncle.
BalasHapusAku dulu termasuk anak durhaka kali ya Mas, aku dulu sering membentak Mama waktu aku masih SMP. Terus tobat setelah ikut Rohis pas SMA, dan pernah nangis-nangis minta ampun pada beliau setelah melahirkan anak pertama. Karena sakitnya itu ya Mas, ternyata.. nggak bisa digambarkan lewat kata-kata.. sudah sakitnya kayak gitu, terus pernah dibentak-bentak anaknya, dan beliau masih bisa begitu sabar.. subhanallah.. malu bangeeeeeeeeeeettt..
BalasHapusMudah-mudahan belum terlambat untuk berbakti pada mereka di usiaku yang sudah kepala tiga ini.. ^_^
Keren nih mas dijadikan artikel semenjak tahun 2012. hehe
BalasHapusaku mlahan baru tau video ini sekarang2 ini. :D
Kadang saya masih bentak2 emak dan bapak kalo lagi beda beda pendapat.
BalasHapusTerimakasih sdah diingatkan uncle.... :)
Kalau ingat, sekali lagi kalau ingat saya ingin nangis...
BalasHapusSekali saya bentak Papa sebelum pernikahan kemarin, karena saya merasa stress dan tertekan...dan iya, kalau ingat saya menyesal mas meski pun sudah meminta maaf dan papa memaafkan tetap saya menyesal.
Selama hidup saya, Papa hanya 3 kali memarahi saya dan itu pun karena saya keterlaluan.
Saya sebenarnya menghindari hal-hal yang membuat saya ingat akan kesalahan saya ini, kaerna itu menyakitkan :(
Whoaa..... semua orang tua mengalami masa ketika anak terus bertanya tentang hal yang sama dan mereka tetap memeluk-cium. dan ada masa ketika anak tertanggu dengan pertanyaan sederhana orang tuanya. #sokpernahmengalami
BalasHapusTrima ksih pencerahannya. Lozz...tanpa saya sadari, rasanya saya suka berbuat seperti yang ditulis disini, bukan membentak memang, tapi bereaksi kurang hangat kala ditanya hal yang sama berulang kali...
BalasHapusDuh, introspeksi, introspeksi!
Mbrebes mili aku bacanya, salam untuk grandpa ya om :'(
BalasHapus