Sukmo Ilang, Andai Saja Kau Mampu Kubeli
Di posting kemarin sempat saya singgung soal ketidakcocokan saya dengan sebuah keramaian bernama ngunduh mantu atau JFC. Ada yang menganggap jika semua itu adalah sebuah sikap ketidaksetujuan saya sebagai warga terhadap kebijakan kotanya. Ah saya rasa tidak, semua hanya soal masalah rasa. Hanya soal perbedaan sudut pandang saya tentang menikmati apa yang disebut sebagai sebuah hiburan. Bagaimanapun juga saya harus angkat topi untuk kreatifitas yang dilakukan oleh rekan-rekan Jember di JFC. Yang jadi pe-er buat saya sekarang adalah bagaimana saya bisa memberikan pula sebuah karya semampunya bagi kota kecil yang saya cintai ini.
Sebenarnya dulu saya pun gemar mendatangi berbagai macam hiburan atau keramaian macam karnaval JFC. Dari THR di lapangan kecamatan hingga Expo di pusat kota. Dari pagelaran orkes dangdut hingga konser musik, saya pun jarang ketinggalan untuk mendatanginya.
Suatu ketika saat masih menjadi seorang warga urban ibukota, lewat sebuah radio saya mendengar ada sebuah konser gratisan yang akan digelar untuk memperingati ultah radio itu. Saya pun tak mau ketinggalan untuk turut menyaksikan konser yang digelar di kawasan Senayan tersebut. Segala sesuatu telah saya persiapkan, termasuk pula kostum yang nanti akan saya kenakan.
"Ra'i ndeso tapi klambi kudu kutho", itulah yang ada dalam pikiran saya saat itu. Kostum sudah saya setting se-trendy mungkin, dengan harapan saya tak terlihat ngisin-ngisini saat berbaur dengan para orang kota nanti. Dengan percaya diri dan langkah ringan saya pun segera bergerak menuju Senayan. Tapi apa yang terjadi? Jasik..ternyata ternyata saya salah kostum saudara-saudara..!. Saya serasa menjadi penonton yang aneh dalam konser itu. Nyaris tak saya temukan penonton dengan pakaian resmi seperti yang saya kenakan. Mata saya hanya memandang sekumpulan muda-mudi yang bercelana pendek/training, kaos oblong lengkap dengan handuk kecilnya. Ya, konser itu sengaja digelar pagi hari dengan tujuan untuk menghibur orang-orang yang berolahraga di kawasan senayan. Konser yang sukses saya tonton dengan tuntas, tapi gagal total saat menginstall kostum yang saya kenakan.
Lain pula cerita saat menonton konser band Flanella di kota saya sendiri. Konser yang penuh roman itu tiba-tiba terhenti di tengah pertunjukan. Flanella menghentikan aksi panggungnya karena perhatian penonton tak lagi tertuju pada mereka. Magnet perhatian sekarang tak lagi tertuju pada apa yang di atas panggung, tapi beralih ke bawah panggung. Ke sebuah tempat dimana disitu terjadi aksi layaknya di film-film kungfu. Bisa ditebak siapa pelakunya?. Hahaha itu saya saudara-saudara, terlibat tarung bebas dengan penonton lainnya. Sebuah konser yang tak hanya sukses saya saksikan, tapi sukses pula saya mendapat oleh-oleh lebam ketika pulang.
Setelah kejadian itu saya berpikir jika mungkin sudah waktunya bagi saya untuk menghindari sesuatu yang berbau keramaian. Sejak saat itu saya cenderung menghindari segala jenis konser musik dan aneka macam keramaian seperti halnya malam tahun baru dan sejenisnya. Sekarang saya lebih menikmati sesuatu yang oleh orang lain kadang dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Saat muda mudi berbondong-bondong menuju keramaian, saya lebih suka menghindar dan memilih mengungsi ke tempat-tempat yang penuh kesunyian.
Sebut saja namanya Sukmo Ilang. Sebuah kawasan di timur desa tempat tinggal saya. Kawasan perbukitan milik Perhutani, yang hanya menyisakan secuil hutan heterogen untuk dicumbui. Selebihnya hanya hamparan hutan jati dan rumput ilalang tak beraturan. Di tempat itu biasanya saya mengungsikan diri dari segala macam sorak sorai keramaian. Dari puncak bukit itu kemeriahan pesta kembang api tahun baru hanya bisa saya tatap dari kejauhan.
Tempat itu bukan hanya sebatas ruang bagi saya untuk melarikan diri dari segala macam kebisingan. Tapi juga sebagai laboratorium alam mini bagi adik-adik saya, untuk belajar tentang apa itu arti dari sebuah konservasi. Sukmo Ilang pula yang dulu menjadi saksi ketika saya mengikrarkan diri menjadi seorang pencinta alam. Saya pun yakin selama masih ada generasi yang peduli dengan alamnya, pekik "salam lestari" senantiasa akan selalu terdengar dari balik hutan kecil itu.
Sukmo Ilang, banyak cerita yang tertulis di sana. Ada kehangatan persaudaraan yang terjalin di dalamnya. Ada pula secuil roman yang menjadi sebuah kenangan. Andai saja aku mampu, ingin rasanya kubeli bukit dan hutan kecil itu. Agar nanti bisa kutanami dengan sesuka hati. Yah, bukan hanya dengan pohon jati, tapi aku ingin menyulapnya menjadi sebuah rimba tropis tapi ber-wifi.
Dulur blogger, esok hari dijadwalkan the Three Lion alias Trio Macan akan mengguncang di lapangan kecamatan tempat tinggal saya. Entahlah, rasanya saya masih enggan untuk menontonnya. Saya khawatir jika masih nekat menonton aksi Trio Macan, sepulangnya saya akan menjadi orang yang mencakar-cakar sembarangan. Jadi yo wis lah besok atur piket malam aja deh, atau mungkin anda punya usulan sebuah tempat bagi saya untuk melarikan diri dari terkaman Trio Macan?.
Sebenarnya dulu saya pun gemar mendatangi berbagai macam hiburan atau keramaian macam karnaval JFC. Dari THR di lapangan kecamatan hingga Expo di pusat kota. Dari pagelaran orkes dangdut hingga konser musik, saya pun jarang ketinggalan untuk mendatanginya.
Suatu ketika saat masih menjadi seorang warga urban ibukota, lewat sebuah radio saya mendengar ada sebuah konser gratisan yang akan digelar untuk memperingati ultah radio itu. Saya pun tak mau ketinggalan untuk turut menyaksikan konser yang digelar di kawasan Senayan tersebut. Segala sesuatu telah saya persiapkan, termasuk pula kostum yang nanti akan saya kenakan.
"Ra'i ndeso tapi klambi kudu kutho", itulah yang ada dalam pikiran saya saat itu. Kostum sudah saya setting se-trendy mungkin, dengan harapan saya tak terlihat ngisin-ngisini saat berbaur dengan para orang kota nanti. Dengan percaya diri dan langkah ringan saya pun segera bergerak menuju Senayan. Tapi apa yang terjadi? Jasik..ternyata ternyata saya salah kostum saudara-saudara..!. Saya serasa menjadi penonton yang aneh dalam konser itu. Nyaris tak saya temukan penonton dengan pakaian resmi seperti yang saya kenakan. Mata saya hanya memandang sekumpulan muda-mudi yang bercelana pendek/training, kaos oblong lengkap dengan handuk kecilnya. Ya, konser itu sengaja digelar pagi hari dengan tujuan untuk menghibur orang-orang yang berolahraga di kawasan senayan. Konser yang sukses saya tonton dengan tuntas, tapi gagal total saat menginstall kostum yang saya kenakan.
Lain pula cerita saat menonton konser band Flanella di kota saya sendiri. Konser yang penuh roman itu tiba-tiba terhenti di tengah pertunjukan. Flanella menghentikan aksi panggungnya karena perhatian penonton tak lagi tertuju pada mereka. Magnet perhatian sekarang tak lagi tertuju pada apa yang di atas panggung, tapi beralih ke bawah panggung. Ke sebuah tempat dimana disitu terjadi aksi layaknya di film-film kungfu. Bisa ditebak siapa pelakunya?. Hahaha itu saya saudara-saudara, terlibat tarung bebas dengan penonton lainnya. Sebuah konser yang tak hanya sukses saya saksikan, tapi sukses pula saya mendapat oleh-oleh lebam ketika pulang.
Setelah kejadian itu saya berpikir jika mungkin sudah waktunya bagi saya untuk menghindari sesuatu yang berbau keramaian. Sejak saat itu saya cenderung menghindari segala jenis konser musik dan aneka macam keramaian seperti halnya malam tahun baru dan sejenisnya. Sekarang saya lebih menikmati sesuatu yang oleh orang lain kadang dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Saat muda mudi berbondong-bondong menuju keramaian, saya lebih suka menghindar dan memilih mengungsi ke tempat-tempat yang penuh kesunyian.
Sebut saja namanya Sukmo Ilang. Sebuah kawasan di timur desa tempat tinggal saya. Kawasan perbukitan milik Perhutani, yang hanya menyisakan secuil hutan heterogen untuk dicumbui. Selebihnya hanya hamparan hutan jati dan rumput ilalang tak beraturan. Di tempat itu biasanya saya mengungsikan diri dari segala macam sorak sorai keramaian. Dari puncak bukit itu kemeriahan pesta kembang api tahun baru hanya bisa saya tatap dari kejauhan.
Tempat itu bukan hanya sebatas ruang bagi saya untuk melarikan diri dari segala macam kebisingan. Tapi juga sebagai laboratorium alam mini bagi adik-adik saya, untuk belajar tentang apa itu arti dari sebuah konservasi. Sukmo Ilang pula yang dulu menjadi saksi ketika saya mengikrarkan diri menjadi seorang pencinta alam. Saya pun yakin selama masih ada generasi yang peduli dengan alamnya, pekik "salam lestari" senantiasa akan selalu terdengar dari balik hutan kecil itu.
Sukmo Ilang, banyak cerita yang tertulis di sana. Ada kehangatan persaudaraan yang terjalin di dalamnya. Ada pula secuil roman yang menjadi sebuah kenangan. Andai saja aku mampu, ingin rasanya kubeli bukit dan hutan kecil itu. Agar nanti bisa kutanami dengan sesuka hati. Yah, bukan hanya dengan pohon jati, tapi aku ingin menyulapnya menjadi sebuah rimba tropis tapi ber-wifi.
Dulur blogger, esok hari dijadwalkan the Three Lion alias Trio Macan akan mengguncang di lapangan kecamatan tempat tinggal saya. Entahlah, rasanya saya masih enggan untuk menontonnya. Saya khawatir jika masih nekat menonton aksi Trio Macan, sepulangnya saya akan menjadi orang yang mencakar-cakar sembarangan. Jadi yo wis lah besok atur piket malam aja deh, atau mungkin anda punya usulan sebuah tempat bagi saya untuk melarikan diri dari terkaman Trio Macan?.
solusinya buka tendo nggelar kloso karo nyruput kopi neng ngarep omahku...
BalasHapushahaha matur nuwun, kapan-kapan wae mas
Hapus[im]http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcT7QfGkST4k0xn-66DOafhCSY0TfBF80l1Nesa5GhjazUIcwZPwQw[/im]
Hapusurunan kang lek arep tuku ..
BalasHapusdi dadikne omah ke-2 lek iso ...
hahaha :D
usul bagus, kapan-kapan melu kalau Happycamp yo
HapusKalau bicara pencinta alam jadi melirik yg disampingku nih mas Lozz... Lagu Huma diatas Bukit kayak jadi lagu wajib beliau.
BalasHapusAku mbayangin mas Lozz salah kostum kok ngekek dhewe...:D
Menghindari Trio Macan jangan masuk hutan mas... ntar ketemu macan juga disana... carane berdiri dibelakang panggung aja mas... khan jadi aman... hehehe...
malah keliatan bokonge kalau di belakang panggung Bun.. piye sih ah hahaha
Hapussambil memandang yang hijau2 enaknya di backingi dengan lagu2 ebit g ade.. :)
BalasHapuslagu gitar tua bang Rhoma aja kang.. lebih syahdu..
Hapussaya belum pernah loh sekalipun lihat konser musik kalaupun pernah waktu itu pas didufan ada konser musik lohat sambil lewat gitu.trus ada lagi percaya gak kalau saya gak pernah ke karaoke ? :-D
BalasHapusgak paham mak Lid, lah saya aja gak pernah juga ke karaoke
HapusWis kang Piket malem wae,sambil ngopi2
BalasHapuskirimi gulane yo kang
Hapushahaa..Trio Macan, kok ga nonton Uncle..
BalasHapusTakut jadi lebih beringas yah..hihii..
Aku tuh tertarik loh menjadikan rimba tropis tapi ber-wifi..
kayaknya setiaap saat aku kan mampir di sono untuk mengademkan hati dan pikiran..
awas macane lewat...
Hapus[im]http://i19.photobucket.com/albums/b155/eddiiie69/animated/tiger.gif[/im]
oohh Jadi ceritanya, penampakan tampak belakang mau pamer tulisan yo..
BalasHapusbukan iklan loh teh, tapi pesan layanan pencinta alam
Hapusyang pengting nikmati aja suasana yang ada, tidak ada salahnya juga bila bergabung dengan keramaian, namun terkadang kesendirian juga dapat membantu kita untuk menenangkan pikiran. Namun kawasan hutan ber wifi, apa ada ya?
BalasHapusnunggu saya beli hutan itu mas nanti saya pasangi wifi hahaha
Hapusuncle, nggak usah nonton trio macan deh....bahaya, goyangan nya itu lho....ampuun deh.....ngelihat mereka di tv aja saya gregetan je....
BalasHapushahaha bisa masuk UGD saya nanti ya mbak
HapusWoooww... O_O
BalasHapussuit..suit..
Hapusfotone sopo iku rek
BalasHapuslagi ngapain ya?????
lagi menatap Pakong dari kejauhan..
Hapusmas citro: paling foto galau nggak ngunduh ngunduh mantu masak ngunduh mantu tak setuju ki rek
BalasHapusgak setuju? sampean baca enggak artikele kang?
Hapusthe real uncle Lozz kah ??
BalasHapusjd itu toh critanya.....paman radial ternyataaaa....ga nyangkaaa hehehe
haaaa itu saat saya masih kinyis-kinyis dulu Mi.. dah lama banget
HapusAhad lalu ada Trio Macan sama Wali Band, memperingati kemerdekaan KBRI yang undang. ragu2 mau dateng, soale ndak suka :D
BalasHapusAlhamdulilah di rumah sibuk, jadi gak pergi. Padahal yah pengen pergi juga, iseng sekalian jeprat-jepret. Ndilalah, pas malanya temen nulis di blognya, ternyata rusuh, sampai ada yang bawa parang segala. Hiks :(
Di negeri orang, kelakuakan tawuran ini sungguh memalukan :(
wkwkwk saya juga merasakan gitu loh Naz, isin jeh diliatin orang banyak
HapusSukmo ilang, tak kirain nama sebuah ajian ternyata nama hutan ehehehe.
BalasHapusJaman sekarang kayaknya sudah ga ada tawuran jadi tenang saja Uncle Lozz :)
hahaha jadi inget jaman sandiwara radio ya mbak
HapusAku sampai skrg belum pernah nonton konser lho Uncle :)
BalasHapusTrio macan katanya sudah berubah jadi Iwak peyek, hehe...
mungin besok berubah lagi jadi iwak asin Yunda
Hapus[im]http://3.bp.blogspot.com/_4auZhpH3SE0/R_dnjdIsxDI/AAAAAAAAAIg/_93g3nV_-IA/s400/Iwak+Lais+halus.jpg[/im]
wah......q salut sam karo samean yang sampai sekarang tetep kokoh pendiriannya.aku bangga telah bisa mengenalmu&menganggapmu sebagai kakak&om buat anakku..gimana kalo kita bawa sarung &nonton 3 macan sama"????????????????????
BalasHapushihihi ora sam. kerjo wae wis ah.. nitip sun sayang buat Jibril ya
Hapus"jangan sampai hutan menjadi tinggal cerita" *mantaf.. saya jadi pengen mikir.. hihi.. sudah lamaaaaaaa.. rasanya ga mampir ke blog ini..
BalasHapushehe matur nuwun sudah mampir bang Didin
Hapuswah..wah bisa dibicarakan lebih lanjut tuh Kang. Oke wis nanti saya telpon sampean
BalasHapusyah kamu piket malam aja dek,, daripada berantem sama macan .. heheh
BalasHapussalam sukses ..
Bundo dulu pernah lihat artis nyanyi (bukan konser sih).. waktu masih sd.. Dina Mariana dan Tomi J Pisa nyanyi di taman ria gitu.. engga desak2an, krn yg nontonnya dikit dan gratis buat pengunjung taman ria.
BalasHapussetelah itu gak pernah lagi liat pertunjukan musik, mungkin klo uncle manggung di bukittinggi Bundo bakal nonton sekalian bawa ambulan piket P3K.
hihihi atau mungkin panggung konsernya letakin di depan pintu UGD aja Bundo
Hapusrimba tropis ber wi fi? keren tuh idenya mas... salam kenal :)
BalasHapusSalam kenal balik mbak Rahmi
Hapussaya pernah nonton konser, band yang jepang2an gitu deh. Itupun krn nganter ponakan.
BalasHapusSeru juga sih kalo ngga ada yg tawuran..
band Jepang-jepangan bu Dey? berarti bukan Jepang beneran dong hehehe
Hapusemang .. kan yg nyanyi ABG indonesia .. qeqeqeq
HapusOuh, begitu ya Kanda. ..
HapusTidak suka dengan keramaian?
Lebih suka dengan Alam? :lol:
Yowis, wi-finya segera di realkan saja. :)
nonton aja paklik dan nikmati aksinya....
BalasHapusbayangkan trio macan layaknya neng alyssa...hihihi
goyangg paklik :D
entah kenapa, tapi aku setuju kalau om Lozz hijrah ke SUkmo Ilang.. wkk :D
BalasHapus"Sebut saja namanya Sukmo Ilang. "
BalasHapusjadi ini bukan poting benar benar tantang Sukmo Ilang itu sendiri? tadi begitu saya baca judulnya, saya kira ini tentang legenda itu. di Bondowoso, tempat kelahiran saya, sempat saya denger selentingan kabar tentang mitologi yang satu ini, tentang sukmo ilang. mitos itu membuat saya penasaran dan ingin tahu secara lengkap ada apa sebenarnya. pernah denger tentang mitos itu?
Wah ternyata dari OPA ya kang? Ada juga lingkungan yang bernama Sukma Ilang (masyarakat setempat menyebutnya dengan Sukmo Elang, penyebutan madura), letaknya di Desa Panduman Kecamatan Jelbuk. Saya gak tau itu di lereng gunung atau lereng gumuk, yang jelas jalannya naik, jalan makadam sejauh 7 sampai 9KM. Warganya ramah, ada air terjun mininya juga disana. Aku tau daerah ini waktu KKT Universitas Jember Tahun 2011.
BalasHapusKarnaval di tempat-tempat yang seperti ini gak ada bosennya. Malah justru ngilangno stress. Pikiran jadi bebas lan santun. Ora terkontaminasi kenaikan harga BBM dan mobil murah :D
BalasHapusTapi cobak disitu digelar tikar, buat api unggun, sama kopi tubruk...wahh tambah manteep sam