Jadilah Ikan yang Pintar
Hingga hari ini memancing masih menjadi salah satu hiburan favorit saya. Ketika penat mulai melanda saat itulah biasanya kesenangan yang satu ini saya lakukan. Maklum, saya bukanlah orang kantoran. Tentunya sulit sekali jika ingin menikmati week end layaknya mereka. Melancong ke aneka tempat wisata. Plesiran ke luar kota yang tentunya membutuhkan banyak dana. Dan, memancing inilah solusi yang ramah buat isi kantong saya. Murah, meriah dan yang paling penting adalah sama-sama memberikan sensasi yang wah.
Makin hari memancing sepertinya sudah menjadi hiburan yang tak murah lagi. Betapa tidak, dulu seingat saya memancing itu adalah perkara yang gampang dilakukan. Tinggal lari ke kali sebelah, atau menuju saluran irigasi tengah sawah, beberapa jam saja kita bisa pulang melangkah gagah. Itulah sensasi dari memancing. Pulang bak pahlawan dari medan laga. Tersenyum bangga dengan harta rampasan berupa ikan-ikan hasil tangkapan. Sayang, semua itu sekarang hanya menjadi nostalgia masa kecil saja. Sungai-sungai itu tak lagi berisi ikan yang melimpah ruah. Yang ada hanya genangan comberan saja, tempat lalu lalang karnaval sampah.
Ada alternatif lain untuk mengail ikan, tapi yang ini butuh dana tambahan. Menuju kolam pemancingan, mencari peruntungan dengan ikan-ikan yang telah disediakan. Namun jangan salah, kolam pemancingan bukanlah jaminan jika ikan-ikan itu mudah kita dapatkan.
Ikan sekarang itu jauh lebih pintar. Tak lagi mudah terbujuk aneka macam umpan yang disuguhkan. Lumut, cacing, tempe, jelas itu makanan ndeso bagi mereka. Sebab, makanan modern macam roti dan biskuit saja mereka indahkan. Membuat saya curiga jangan-jangan para ikan sekarang sudah membentuk paguyuban. Ya..ya semacam konsiprasi berjemaah untuk emoh mencaplok umpan lagi.
Saat musim mencari ikan tiba saat itulah banyak muncul para pemancing di masyarakat kita. Para pemancing kepentingan yang menyuguhkan aneka umpan yang menggiurkan. Tujuannya hanya satu, agar si ikan mau mencaplok umpannya untuk memuluskan keinginan mereka.
Adakalanya mereka menggunakan umpan sederhana macam mengail ikan dengan cacing. Bingkisan sembako, amplop berisi angpao, atau mengisi kas perkumpulan pengajian kampung, itulah umpan para pemancing kelas teri. Saat ajang pilkades tiba biasanya pemancing yang satu ini kita temui.
Lalu apa umpan para pemancing kelas kakap? Hmm, kalau yang satu ini lain lagi. Umpan mereka tak lagi berupa materi siap saji, tapi kadang bisa membuat para ikan terlena hati. Umpan itu biasanya mereka tebarkan melalui janji-janji bombastis untuk membawa perubahan yang lebih manis. Saat musim pilkada, caleg atau kepala negara, saat itulah para pemancing nampak begitu mesra dengan para ikannya. Bahkan ada pula diantaranya yang nampak menikmati secangkir kopi bareng rakyat di warung pasar yang dia kunjungi. Apakah setelah musim mencari ikan mereka tetap mau melakukan itu? Halaagh, seribu satu jika ada yang mau seperti itu !
Dulur blogger, semoga saja masyarakat akar rumput macam kita semakin pintar saat musim ikan tiba. Menjadi ikan yang tak sekedar "hleb" saja mencaplok umpan yang ada. Sebab, saat musim ikan itulah sebenarnya kita adalah raja. Seorang raja yang berhak menentukan mahal tidaknya suara kita. Jangan sampai kita menjadi ikan murahan. Yah, menjadi seorang pendukung yang begitu fanatik, gara-gara terbuai bujuk rayu pemancing yang terlihat begitu simpatik.
Hidup umpan, eh ikan !
Ingat loh jangan memancing keributan juga :) Aku pernah loh uncle maning umpannya kue apem, ikannya lahap :)
BalasHapusIkannya doyan jajan tuh mbak Lid hihi
Hapusaku sukanya mancing kerusuhan bu...
Hapuskalo keributan sih engga :D
aq kalo mancing pake nasi :D kalo d laut pake cacing, duluuu tp
BalasHapuskalo musim coblos, aq g pernah dpt amplop
berarti Jiah blum terdeteksi jadi ikan oleh pemancing :p
HapusOalah ini efek April MOP yo Uncle (Masalah Orang Pertama) hihihi,
BalasHapusRakyat yang cerdas harus bisa membaca, "Iqro'", mana yang berkepentingan, mana yang ikhlas,, :)
Yups.. harus bisa membaca kang.. jangan ampe fanatik buta gara-gara disogok sembako. Kan biasa tuh terjadi di desa-desa
HapusAyo mancing iwak pithik nang pasar tanjung :)
BalasHapusPokoe ojo pithik Songgobumi loh sam.. ora cukup duite haha
Hapushahahhaha, umpannya angpao *langsung jadi ikan* :)))
BalasHapusPernah mancing di balong(empang)nya temen, padahal ikan banyak, mungkin umpannya gak menarik ya, gak kayak uncle umpannya beragam.
wow.. Balong tuh empang ya Put.. kalau nama desaku Balung.. berarti setengah empang dong haha
Hapusiya yah..dulu mancing cepet banget dapetnya,sekarang susah bangetttt.....pantesannnn,zamannya udah maju sih g mau cacing lagi..maunya oreo kali ya hihihi
BalasHapusAda tuh mbak kalau mau cepat dapat ikan.. mancing aja di game online wkwk
Hapusikannya banyak yang diracun............!!!.
BalasHapusNah itu lagi salah satu yang membuat sekarang mancing menjadi hiburan yang mahal sam
Hapusikan jaman sekarang harus lebih pinter daripada yang mancing yo mas...hehe
BalasHapusYa mbak.. ben ora dijadikan bancakan ama para pemancing kepentingan
Hapussy gak jago mancing. Jarang dpt ikan
BalasHapuskalau sampean kan jago bikin pisgor mbak hahaha
Hapusayo cari umpannya dulu, uncle :D
BalasHapustrus mancinge dimana? :p
HapusPemancing kelas kakap itu apa sih maksudnya, Uncle?
BalasHapusVania ndak ngerti... ^_^
Vania belum coba mancing nih Uncle... asik ya kalau mancing?
Vania punyanya biskuit tuh di lemari, abis Vania takut pegang cacing..
hihihi...
tuh biasanya muncul di televisi Van. tanya mama deh nanti pasti akan ditunjukin pemancingnya
HapusHm... bulan depan mulai musim pancingan di daerah kami... mo blajar dulu jadi ikan pinter deeh... :)
BalasHapusdi daerah saya mulai rame mbak. dan ya gitu deh banyak umpan yang ditebar biar para ikan nyaplok
Hapusmending mancing pake duit, om...
BalasHapussampe saat ini belum bisa menikmati indahnya mancing ikan
padahal sungai barito di depan mata
Tempe?? What?? Uncle Lozz pernah ngasih umpan ikan pake tempe?? *doh.. kleper-kleper membayangkan makanan favoritku dikasihi ke ikan*
BalasHapusaku wes suwe ora tau mancing iwak ams, soale neng kene kudu nduwe SIM je :)
BalasHapusngOmong mancing ikan kok jluntrung teko pil pil to uncle *jluntrung ki bahasa apa yak?" ehehehe
BalasHapusTahun ini untuk pertama kalinya saya akan nyoblos lho..... Itu yang tukang mancing sudah mulai blusukan ke kampung saya untuk melakukan kampanye berkedok Bakti Sosial :). Tapi kayaknya saya ndak akan tergiur deh hehe
Di Makassar lagi musim ikan, Mas. Sebenarnya belum sih, katanya menjelang akhir tahun tapi baliho dan poster yang menampilkan wajah2 penuh senyum sudah ada di mana2.
BalasHapusSudah telanjur mampir .. komen lagi aah
HapusMancing? gak berani megang cacing... :(
BalasHapusmet pgi mas salam kenal dulu'y mas komenya ntar kalu kesini lgi heheh
BalasHapusKalau begitu kita harus cerdik juga ya Kang untuk mendapatkan umpan yang besar. He...x9
BalasHapusSukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog
Duh, lagi-lagi postingan ini bisa diintrepetasikan macam-macam...
BalasHapusDan sumpah Lozz, saya nggak akan pernah mau kalo disuruh mancing ikan dalam arti sesungguhnya. Saya nggak tega lihat mata sang ikan dan mulutnya yang pasti terluka karena mata kail kita...kasihaaaan!
Hiburan saya, cukup jalan-jalan di pematang sawah aja deh, di pinggir kali juga boleh, tapi sebatas duduk-duduk diatas batu :D