Roda itu Masih Berputar
Untuk kamu yang baru saja menghapus bulir bening itu. Masihkah kau ingat tentang cerita kita beberapa waktu yang lalu? Saat kita sama-sama susuri jalanan kota kecil itu. Kau dan aku di motor yang sama, menuju suatu tempat yang telah kita sepakati. Nikmati malam minggu itu layaknya remaja saja.
Tentunya kau masih ingat kan tentang secuil cerita perjalanan kita? Tentang tragedi di pertigaan lampu merah itu. Saat tiba-tiba saja seorang pria berseragam menghentikan laju motor kita. Mengggiring kita berdua menuju sebuah pos jaga. Mendakwa dengan membacakan sederet pasal yang sama sekali tak aku dengarkan. Tilang ! itulah vonis mereka buatku.
Aku tahu ada semacam ketakutan yang kulihat dari bola matamu. Mungkin saja kamu khawatir aku akan melakukan aksi nekat saja di pos jaga itu. Saat aku mencecar vonis mereka dengan bermacam protes yang kulontarkan. Bukan, bukan maksudku untuk menentang para pria berseragam itu. Bukan pula aku tak mau patuh pada aturan main yang berlaku. Aku hanya ingin menuntut sedikit keadilan pada diri kita. Ya, sedikit keadilan saja. Kenapa mereka terlihat diam saat kutunjukkan lalu lalang motor-motor lain yang tak disertai pengaman? Entahlah, kurasa mungkin malam itu memang menjadi hari naasku. Sebab, sengotot apapun protesku hasilnya akan sama juga. Yah, mesti mengisi kantong mereka dengan uang kas agar kita berdua bisa lepas.
Jika bercerita tentang kisah kita sepertinya tak ubahnya seperti tragedi lampu merah itu. Kita pernah sama-sama mencoba memautkan rasa dalam satu bahtera cinta. Sama-sama memiliki keinginan dan tujuan sama agar semua itu tak hanya sebatas angan. Sayang, ada sesuatu yang selanjutnya menghadang langkah kita layaknya pria berseragam itu. Semacam tembok kokoh yang menjadi pembatas cinta kita. Meski kita pernah sama-sama mencoba robohkan tembok kokoh itu. Hasilnya masih sama saja. Tembok itu masih kokoh berdiri, bahkan semakin menjulang dan menghalangi jari jemari kita untuk saling bergandengan.
Pernah pula aku mencoba melakukan semacam protes. Mempertanyakan tentang keadilan yang harus kita terima. Namun akhirnya kusadar jika semua itu hanya sia-sia saja. Ah, andai saja melakukan kompromi pada kondisi semudah bernegoisasi dengan polisi. Andai saja tembok kokoh itu bisa dibeli dengan selembar I Gusti Ngurah Rai, mungkin sekarang kita sudah gapai tujuan yang dulu sama-sama diidamkan .
Tapi sudahlah, kurasa ini yang disebut takdir, tapi itu bukan berarti perjalanan kita juga turut berakhir. Selama masih ada bahan bakar bernama usia, tentu saja roda itu akan terus berputar. Laju kehidupan kita akan terus bergulir, hingga nanti masa kita berakhir. Denganmu atau tanpamu roda itu pasti akan terus berjalan. Pun demikian tanpaku, kurasa kau pun akan mampu menjalani hari-harimu.
Kurasa hanya butuh rasa ikhlas saja menerima kenyataan yang ada. Selebihnya kita hanya perlu membiasakan sesuatu yang baru muncul dalam hidup kita selanjutnya. Yah, membiasakan diri untuk tak lagi mengangankan semua impian kita, itu saja. Selebihnya kita harus terus membuka hati untuk siapa saja. Sudi pula mempersilakan jika saja ada diantara mereka yang ingin mencoba menjadi nakhoda atau membonceng di bahtera cinta kita. Sebab, bisa jadi salah satu diantaranya kelak akan menjadi teman sejati perjalanan kita. Semoga.
Tentunya kau masih ingat kan tentang secuil cerita perjalanan kita? Tentang tragedi di pertigaan lampu merah itu. Saat tiba-tiba saja seorang pria berseragam menghentikan laju motor kita. Mengggiring kita berdua menuju sebuah pos jaga. Mendakwa dengan membacakan sederet pasal yang sama sekali tak aku dengarkan. Tilang ! itulah vonis mereka buatku.
Aku tahu ada semacam ketakutan yang kulihat dari bola matamu. Mungkin saja kamu khawatir aku akan melakukan aksi nekat saja di pos jaga itu. Saat aku mencecar vonis mereka dengan bermacam protes yang kulontarkan. Bukan, bukan maksudku untuk menentang para pria berseragam itu. Bukan pula aku tak mau patuh pada aturan main yang berlaku. Aku hanya ingin menuntut sedikit keadilan pada diri kita. Ya, sedikit keadilan saja. Kenapa mereka terlihat diam saat kutunjukkan lalu lalang motor-motor lain yang tak disertai pengaman? Entahlah, kurasa mungkin malam itu memang menjadi hari naasku. Sebab, sengotot apapun protesku hasilnya akan sama juga. Yah, mesti mengisi kantong mereka dengan uang kas agar kita berdua bisa lepas.
Jika bercerita tentang kisah kita sepertinya tak ubahnya seperti tragedi lampu merah itu. Kita pernah sama-sama mencoba memautkan rasa dalam satu bahtera cinta. Sama-sama memiliki keinginan dan tujuan sama agar semua itu tak hanya sebatas angan. Sayang, ada sesuatu yang selanjutnya menghadang langkah kita layaknya pria berseragam itu. Semacam tembok kokoh yang menjadi pembatas cinta kita. Meski kita pernah sama-sama mencoba robohkan tembok kokoh itu. Hasilnya masih sama saja. Tembok itu masih kokoh berdiri, bahkan semakin menjulang dan menghalangi jari jemari kita untuk saling bergandengan.
Pernah pula aku mencoba melakukan semacam protes. Mempertanyakan tentang keadilan yang harus kita terima. Namun akhirnya kusadar jika semua itu hanya sia-sia saja. Ah, andai saja melakukan kompromi pada kondisi semudah bernegoisasi dengan polisi. Andai saja tembok kokoh itu bisa dibeli dengan selembar I Gusti Ngurah Rai, mungkin sekarang kita sudah gapai tujuan yang dulu sama-sama diidamkan .
Tapi sudahlah, kurasa ini yang disebut takdir, tapi itu bukan berarti perjalanan kita juga turut berakhir. Selama masih ada bahan bakar bernama usia, tentu saja roda itu akan terus berputar. Laju kehidupan kita akan terus bergulir, hingga nanti masa kita berakhir. Denganmu atau tanpamu roda itu pasti akan terus berjalan. Pun demikian tanpaku, kurasa kau pun akan mampu menjalani hari-harimu.
Kurasa hanya butuh rasa ikhlas saja menerima kenyataan yang ada. Selebihnya kita hanya perlu membiasakan sesuatu yang baru muncul dalam hidup kita selanjutnya. Yah, membiasakan diri untuk tak lagi mengangankan semua impian kita, itu saja. Selebihnya kita harus terus membuka hati untuk siapa saja. Sudi pula mempersilakan jika saja ada diantara mereka yang ingin mencoba menjadi nakhoda atau membonceng di bahtera cinta kita. Sebab, bisa jadi salah satu diantaranya kelak akan menjadi teman sejati perjalanan kita. Semoga.
Gak dilarang kok mengangankan impian, siapa tau kan bisa terjadi. Membuka hati itu harus supaya bisa dikenali :) Ini postingan cerita atau puisi ya? hehehe kayanya sambungan dari psotingan disebelah ya
BalasHapusSaya memimpikan bisa main kelereng ama pascal aja deh
HapusKalo main kelereng, Dija juga mau ikut dong Om,,
Hapusdija belom bisa main kelereng nih
Vania juga belum coba main kelereng, Uncle..
HapusIkutan dong.. bareng Dija juga.. ^_^
Curhat Saaaaam, haha....
HapusCerita, puisi atau apapun hajar bleeh
BalasHapustetap semangat dalam menjalani hidup brade, roda akan terus berputar
jangan berhenti agar tidak tergilas
jangan melawan arus agar tidak terlindas
jalani apa adanya
jangan sampai ada apanya ya.....!!!!
[im]http://www.chidonice.com/assets/chidonice/Homer_Run.gif[/im]
Hapusterus berlari yo kang...
membuat kenangan baru ya, uncle. tapi sebenernya masih boleh berharap lho. apa sih yang ga bisa buat Allah kabulkan? :)
BalasHapusKomen itu buat saya atau buat diri sendiri sih Ila hahaha
Hapuskayaknya ada yang sedang patah hati nih....hehe
BalasHapustetap semangat menapaki perjalanan untuk mendapatkan seorang teman sejati. saya bantu doa mas...:)
ini fiksi atau berdasar pengalaman pribadi mas ?
BalasHapusUncle ... ini lanjutan kisah yg kemarin ya ... :D
BalasHapuslife must go on ...
Ada yang melow nich..
BalasHapusAyo broo semangaaat
Sinii jalan2 neng Bandung..
kita hang out #gayanya :D
Eaaa...eaaa..tragedi opo ae Uncle, mosok seng ditilang Polisi aja yang ada dalam cerita hihi, yang menyusuri jalan pas ada juklangan kok gak diceritakan hihi
BalasHapusSabar, semua pasti akan indah pada akhirnya, toh Uncle sudah berusaha, sekuat apapun usaha yang dilakukan tapi kalau itu bukan takdirnya gak akan bisa :)
Cemungudddd Kakak :)
hihihi
BalasHapusngomongin wereng coklat di perempatan mah ga ada habisnya...
hayyah uncle, pernah jatuh cintah juga, sampai di tilang polisi malahan.. ga paham banget ya tu pak polisi..
BalasHapusMas, aku baca postingan ini kok tiba-tiba jadi galau sendiri yah? :D
BalasHapusHayooo.. Dhe tau cerita ini bermuara kemana, Dhe ikuti kisah cinta ucle lho! *gubrakz.. padahal tanpa sengaja, kwkkwwk*, Tragedi ditilang saat akan kopdar yah, hihihi..
BalasHapusyang sabar ya Uncle Lozz kami, semua pasti akan indah pada waktunya ^^
ini ngga lagi patah hati sama Pak Polisikan yah??? atau sama Ngurah Rai??? ^^
BalasHapusKang Lozz... aih, ada sepenggal kisah yang terlewatkan olehku rupanya.
BalasHapusTetap semangat uncle... hari baru akan membawa warna baru.
Lah... kalau temboknya tinggi, mari panggil teman2 blogger bantu hancurin temboknya :)
BalasHapusBetul kata tadi, selama masih ada usia, kenapa tidak? :)
Cerita di awal yg di tilang polisi bahasanya aduhai banget yaa :)
BalasHapusJoin GeniqueShoes giveaway, win free shoes, watch, voucher disc, etc
Info
bit.ly/GeniqueShoesGA
We wait for you to join our giveaway! <3
www.geniqueshoes.com
Kalau dipikir2 sih, sekarang jaraknya cuma berbeda 6 jam perjalanan :D
BalasHapusBuat Kang Lozz, kalau butuh kuda putih, nanti tak usahakan cari persewaan kuda :)
HapusMasih ada umur .. msh ada waktu :)
BalasHapusYes..... mari kita terus mengikuti jalur pada setiap putaran roda yang sedang bergulir Kang.
BalasHapusSukses selalu
Salam
Ejawantah's Blog
Roda itu masih berputar, dan akan terus berputar. Sampai saat nanti ada yang menghentikan. :)
BalasHapusTetap semangatttttt, Kandaaaaaaaaaaa!. ^_*
hmm, saya ingat-ingat dulu, kisah ini tentang siapa ya, apakah sebatas fiksi atau memang realita, ataukah ini adalah hasil dari penjemputan sesama blogger pada suatu hari, ahhayy ternyata ada romansa cinta di dalam kisah penjemputan itu,hmm benarkah itu , atau hanya dugaanku saja,
BalasHapustapi tenang saja kawan, memang roda masih berputar, namun apakah roda itu berputar ditempat atau menemukan jalan baru untuk menggapai harapan...karena harapan selalu ada untuk siapa saja :-)
Hati saya kenapa kok ikutan meleleh ya?
BalasHapusAhahaha...sata tau kepada siapa posting ini ditujukan Lozz, dan saya juga mengerti kenapa angan itu tetap menjadi impian. Jangan menyerah, kawan.
Roda itu terus berputar, dan cerita hidup kita toh belum berakhir...jadi, tetap semangat, di ujung sana, belahan jiwa sejati itu telah menanti ;)
aduh aduh... mbak Irma tauuu?
Hapussy jadi penasaran... #kilik kilik mbak Irma#
Begitulah hidup penuh liku-liku.
BalasHapusKita ikuti saja apa kehendak NYA Insya Allah akan mendapat kebaikan.
Salam hangat dari Surabaya
hmm... mencoba menerka2 maksud dari isi postingan..
BalasHapusmotor, pria berseragam, tembok penghalang, roda berputar..
nyerah ah... hihihi...
biarkan mengalir apa adanya
BalasHapusLa tahzan Wa la Takhof Inallaha ma'anna... :)
BalasHapusMakna tulisannya tersirat nih.. Agak susah nangkepnya saya.. :-D
BalasHapusHeheheh.. Tapi enak dibaca!!
Euyah mas, tampilan blog nya design sendiri kah??