Bukan Review Film 5 cm

Tulisan ini tak hendak menelanjangi habis-habisan film 5 cm. Apalagi membandingkan jalan cerita film sesuai novelnya. Sebab, bagaimana saya bisa membandingkan, lah novelnya saja saya enggak paham? hehe. Sekali lagi ini bukan review film 5 cm. Hanya sebatas berbagi pengalaman saja, sebab saya juga pernah beberapa kali mendaki gunung seperti dalam film 5 cm itu. Mahameru, atapnya pulau Jawa.

Menurut saya film ini bagus. Bercerita tentang sebuah persahabatan 5 anak manusia. Ada bumbu cinta segitiga antara Genta, Zafran dan Riani di dalamnya. Juga ada sisi nasionalisme dan motivasi untuk menggapai semua impian kita. Namun, adapula sisi kejanggalan pada beberapa adegan pendakian. Ada beberapa yang mungkin saya maklumi, karena mungkin itu sebatas menjaga sisi artistik adegan saja. Tapi, untuk beberapa adegan mungkin perlu saya luruskan. Sebagai gambaran bagi anda, atau siapa saja yang berniat  mendaki ke Mahameru gara-gara film ini.

Mahameru adalah puncak tertinggi Jawa. Puncak idaman para pendaki Indonesia. Sisi eksotis yang ditawarkan sebanding pula dengan cerita-cerita tragis yang kadang terjadi. Entah, berapa banyak pendaki yang tewas atau hilang di gunung ini. Selain faktor kurangnya persiapan fisik, perlengkapan, logistik serta mental sebelum melakukan pendakian. Faktor kondisi cuaca yang tak ramah, juga menjadi salah satu penyebab banyaknya kecelakaan di gunung ini. Badai misalnya, seperti  yang pernah saya alami dan singgung di tulisan ini.

Pendaki pemula
Di film 5 cm jelas terlihat jika keenam remaja tersebut adalah pendaki pemula. Mereka melakukan  persiapan asal-asalan, karena  pendakian itu adalah acara kejutan yang dibuat Genta. Bukan, saya tak bermaksud menakut-nakuti anda yang berniat ke Mahameru untuk pertama kali. Benar adanya mendaki itu bisa dilakukan siapa saja, tapi butuh persiapan matang pula saat hendak melakukannya. Semeru bukanlah tempat main-main atau ajang rekreasi orang kota belaka. Jadi, pikirlah dua kali saat hendak mendakinya. Lakukan persiapan matang. Perbanyak info medan yang akan dilalui. Lakukan latihan fisik. Jika perlu mendakilah gunung-gunung yang lebih pendek sebagai training anda.

Celana jeans 
Celana jeans nampak dominan sebagai kostum dalam film ini. Entahlah, mungkin ini hanya sebatas sisi artistik film agar lebih modis kali ya. Celana jeans bukanlah perlengkapan standar pendakian. Apalagi memakai jeans ketat seperti nampak dalam film, piye mlakune rek? hehehe. Pakailah celana berbahan kain kuat, tapi tak ketat dan membuat kita leluasa untuk bergerak. Ringan, mudah kering dan menyerap keringat.

Penunjuk jalan / porter
Tokoh-tokoh di film ini jelas nampak adalah anak-anak orang kaya. Tapi, kenapa mereka tak menyewa jasa porter ya? Padahal mereka tak paham medan yang akan dilalui, kecuali Genta yang mungkin paham sedikit info akan Semeru. Lebih aneh lagi disitu digambarkan jika pendakian dilakukan saat menjelang tanggal 17 Agustus. Masa dimana ribuan pendaki Indonesia berkumpul di Semeru. Tapi, mengapa mereka tak nginthil rombongan pendaki lainnya jika memang buta medan yang akan dilalui?

Oke deh saya maklumi. Mungkin film ini tak menghendaki figuran nimbrung terlalu banyak di adegan mereka. Apa jadinya jika mereka menyewa saya sebagi porter, rusak kan pakem ceritanya? hahaha. Tapi, mungkin bisa jadi catatan bagi anda yang mungkin hendak mendaki Semeru. Porter itu perlu jika anda mampu membayarnya. Setidaknya membawa teman yang lebih dulu punya pengalaman mendaki Semeru. Atau, yah dengan cara nginthil bareng rombongan lain. Apalagi saat anda melakukan summit attack menuju puncak Mahameru. Saat itulah medan yang dilalui akan semakin berat dan awan orang tersesat

Manajemen air
Lagi-lagi saya melihat adegan yang perlu kita pelajari. Saat mereka berkali-kali nampak kekurangan air. Juga saat mereka meminta air ke pendaki lain di Kalimati. Padahal sebelumnya mereka baru saja dari Ranu Kumbolo. Danau vulkanik, tempat biasanya para pendaki mengisi persediaan mendaki sebanyak-banyaknya sebelum menuju puncak. Memang masih ada sumber mata air kecil bernama Sumber Mani di dekat Kalimati. Tapi, saya rasa sebagai pemula mereka akan kesulitan mencarinya.

Lebih lucu lagi saat melihat adegan saat mereka melakukan summit attack menuju puncak Mahameru. Sama sekali saya tak melihat mereka bersentuhan dengan air minum. Padahal saat itulah medan yang paling berat dilalui oleh seorang pendaki saat menaklukkan Semeru. Tentang bagaimana cara mereka mempersiapkan fisik dan mental untuk menaklukkan lautan pasir menuju puncak Mahameru.  Benar adanya saat melakukan summit attack, tak semua perlengkapan daki kita bawa. Tapi, kita juga perlu banyak air sebagai bekal dan beberapa makanan kecil sebagai penambah kalori kita. Lucu kan, disaat medan yang saya anggap relatif mudah mereka sangat butuh air. Sebaliknya, saat mereka bertemu medan berat, tapi terlihat super tak lagi butuh air.. Protes maneh..protes maneh hehe.

Manajemen air sangatlah diperlukan dalam sebuah pendakian. Andai saja saya dibuang di sebuah hutan, lalu diberi opsi untuk memilih antara air atau makanan sebagai bekal. Mungkin saya akan memilih air. Sebab, air begitu penting bagi kehidupan manusia. Lebih lagi, mendaki adalah pekerjaan menguras keringat yang menyebabkan tubuh gampang terkena dehidrasi. Jadi sekali lagi, disiplin memanajemen air itu penting saat mendaki !

Dulur blogger, mungkin itu sekilas opini tentang beberapa adegan film 5 cm yang saya benturkan dengan pengalaman pribadi saat mendaki. Sekali lagi, ini bukan review film 5 cm. Hanya sebagai wanti-wanti  buat anda yang ingin mendaki Semeru. Sebab, bisa jadi lebaran nanti banyak remaja yang terinspirasi dari film ini. Lalu berbondong-bondong ingin mendaki Semeru seperti di filmnya. Saya takut diantaranya ada  yang melakukan persiapan asal-asalan layaknya di film. Film itu memang menarik, tapi jika anda tidak mempersiapkan diri. Tentu bukan hal menarik jika anda mengalami pengalaman buruk saat mendaki seperti saya dulu. Yah, di Mahameru itu. Saat maut serasa berjarak kurang dari 5 cm dari kening saya. Selamat mendaki.


note : jangan lupa bawa sampahnya pulang ya saat berpetualang. Salam lestari !

Komentar

  1. saya juga merasa ada beberapa bagian yang terlalu lebay dalam film ini. tapi ya karena cuma film ya sudahlah. saya lebih suka baca novelnya dimana imajinasi saya lebih bebas. :D

    BalasHapus
    Balasan

    1. Makanya itu mas, saya rasa perlu memberi gambaran pada yang awam sekilas tentang mendaki dan Mahameru. Setidaknya ada sedikit gambaran bagi mereka yang berniat mendaki ke sana, khususnya bagi pemula

      Makasih mas Fanz

      Hapus
  2. Karena saya tidak melihat filmnya dan tidak paham dengan pendakian ya cuma ngikut saran sampeyan ae sam, gini-gini saya kan juga pendaki alias penuh daki... hehehehehe..

    Nice artikel gan

    BalasHapus
  3. Suami sy jg blg kl film 5cm cuma bagus pengambilan gambarnya. Dan sy langsung ngerti maksudnya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu jadi tugas emake Nai, sebagai istri dari Wanadri.. untuk urun memberikan gambaran soal pendakian Mahameru. Saya yakin lebih lengkap nanti dari info bapake Keola. kasihan loh mbak bagi mereka yang awam naik Semeru kalau persiapannya asal saja

      Hapus
  4. Tulisan ini tak hendak menelanjangi habis-habisan film 5 cm, hehee tapi Ngudani :P

    Saya belum baca novel dan lihat filmnya Mas..

    BalasHapus
  5. Loh kan saya udah bilang ini bukan review film mas. tapi ngomentari adegan film hehe..

    BalasHapus
  6. yang terakhir tuh yang penting ya...., sampahnya dibawa pulang masukin lemari he2... Biar lingkungan tetap bersih lestari tak tercemari... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajib tuh mbak. tapi ojo dimasukin lemari atau kulkas dong ah hahaha

      Hapus
  7. Pokoknya salam lestari deh.... sampah harus di bawa pulang. Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak dan jangan membawa pulang apapun dari alam kecuali memori.
    aku mengamini semua ripiu-nya. Secara eyke rada2 paham ye..... apalagi mendaki Mahameru adalah idaman aye sejak kuliah. pengen ngajakin uncle dkk ke sono tapi body sudah mulai tuwir. haghag...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga udah tuwir mbak Sus.. koyoke wis ora kuat maneh munggah Semeru hehehe

      Hapus
  8. waah! kalo bang Lozz saya lbh percaya karena tahu kapsitas abang sbg apa haha... iya yah? masa pke jeans, saya gak mikir kesituu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe untung masih pakai celana panjang Kang.. piye misal pakai rok mini hayooo haha

      Hapus
  9. Menurut saya, para pembuat film harusnya konsultasi sama ahlinya. Kayak film latar belakang pendakian begini, mesti konsultasi sama para pendaki semisal mas Lozz. Buat saya sih sekeren apapun filmnya kalo ada yang tak logis (banyak lagi) dalam alurnya ya jatuhnya jadi jelek banget. Koq kayak rasanya "dibohongi" gitu .. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya cuma takut aja mbak.. Film itu diliat anak-anak muda kita yang awam soal mendaki. Lalu tiba-tiba saja nekad ke Semeru dengan persiapan yang asal kayak di film

      Hapus
  10. Apik tulisaneeee, suka-suka. Durung nonton dan durung moco bukune :D

    BalasHapus
  11. Saya Belum liat film ama baca nopelnya uncle. . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau dipahami secara awam mendaki, saya rasa film ini layak tonton kok mbak Tarry

      Hapus
  12. eh..tapi mas lozz.. gak semuanya awam medan lo..yang tau medan itu hanya genta, ]terbukti dari mereka berenam naik jeep di stasiun. Yang lainnya terkagum-kagum. (kalo gak salah) Genta pun bilang pada supirnya,"Mereka baru pertama kali pak."

    ah..memang namanya film..banyak yang aneh dan gak logisnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah tuh di atas kan udah saya tulis hanya Genta yang paham sedikit info medan, tapi bukan pernah ke Semeru kan? Maka itu perlu diterangkan mbak, sisi gak logis banget adegan mendakinya, kasihan kan mereka yang nanti ke Mahamaeru dan awam

      Hapus
  13. Guru terbaik adalah Pengalaman, paling seng gawe film/novel iki durung penglaman, Unlce. Semua berdasrkan unsur keindahan cerita saja, malah gak memperhatikan bahaya yang ada disana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di novel mungkin kita masih bisa berimajinasi Kang. nah film ini kan dilihat, jadi kliatan tuh anehe hehe

      Hapus
  14. aku malah baru ngeh nek 5cm itu pilem lokal
    kirain pilem bule macam 300 apa bc 10000..?

    itu yang kadang nyebelin dari pilem kita
    terlalu mendramatisir sampai melupakan logika :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga baru paham Kang, itupun karena penasaran wae soale user-user warnetku banyak yang nanya film ini.

      Hapus
  15. hm.. kalau nanti kelakon bisa ke mahameru... pengen ngajak Cak Lozz saja aah.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lah dari Bromo kemarin udah deket loh mbak sebenarnya

      Hapus
  16. Saya belum melihat filmnya Kang, tapi pedoman saya adalah dari sebuah pengalaman yang pernah melakukan pendakian di daerah tersebutlah sebagai guru yang menjadi potokannya. kalau dalam film kan lokasi bisa dibuat menyerupai lokasi sebenarnya.


    Salam wisata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kang Indra enggak pingin ke Semeru nih.. ke Ranu Kombolo wae kang, lebih mudah jalannya dan tak terlalu bahaya

      Hapus
  17. Walau tak nonton filmnya apa lagi ikut mendaki Mahameru, saya puas membaca ulasan Uncle Lozz..Sebuah pengalaman yang hanya bisa di dapat kalau orangnya benaran pernah mendaki Mahameru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya Uni.. ini hanya sekedar share pengalaman saja kok. Mau ikut saran saya monggo, mau ikut cara seperti di film yo terserah....

      Hapus
  18. Ealah saya belum baca dan belum nonton, jadi baca postingan ini aja deh makasih ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak Hana..film ini layak tonton kok mbak. download aja deh #loh? hahaha

      Hapus
  19. Salam Lestari Uncle... Ayo ke Tambora. Kapan nih?? *nantangin :p

    Hmmm,. rasanya sudah banyak juga yang mereview tentang film ini, yah walopun bukan review yang sebenarnya, yaa seperti tulisan Uncle ini. Dan, memang banyak sih kekurangannya kalo dibandingkan dengan kenyataan yang ada dilapangan harusnya seperti apa. Tapi ya balik lagi, ini film. Jelas ada nilai yang harus dijual. Kalo dandanannya ala pendaki beneran yang jaketnya susun 5 dan celana susun 3 plus masker dan lain sebagainya, gak keliatan donk ganteng dan cantik artisnya. Hehehe...

    Aku jadi ingat beberapa waktu yang lalu pas film ini baru muncul. Tiba2 ada teman yang setauku dia tu anak rumahan banget, tanya ke aku tentang apa saja yang harus disiapin kalo mau ke Mahameru. Jawabku, singkat aja. "Asal bukan celana jeans, tas selempang, atau kemeja" :p

    Kalo style mendaki, masih jauh lebih bagus film Pencarian Terakhir. Sponsornya Consina sihh. Nonton film itu jadi naksir sama jaket n carrier nya. Hehehe

    Udah ah, panjang kali komenku ni..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe saya pikir justru dengan membuat adegan sereal mungkin itu akan mengena suasananya mbak.. Ingat film Vertical Limit kan?

      Film benar hanya sebuah hiburan, tapi harus mampu pula memberikan sebuah info yang setidaknya mendekati kebenaran. Nah, kalau nanti ditiru orang awam, piye?

      Hapus
    2. hoy, aku suka film vertical limit, om.. wes asli film itu nggak menonjolkan cantiknya pemain atau bagusnya penampilan :)
      tapi kalo film ini, aku belom liat :p

      Hapus
  20. Keren bukan reviewnya nih. Memang harus menyampaikan informasi yang benar yo mas, apalagi kalau naik ke sana kan penuh dengan resiko, nggak kayak rekreasi atau piknik mendaki aja.
    Mas dan suamiku juga suka mendaki gunung, dari mereka aku sering diceritakan ulah para pendaki yang merusak dan yang benar2 cinta alam. Beda banget,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe kan pendaki belum tentu pencinta alam Bunda

      Hapus
  21. Baca semua komentar, aku jadi ingat. pernah naik ke gunung ungaran dengan gadis manja. moga dia ga tersinggung karena kami tertawa terlalu keras. kami baru sadar ketika di dalam mobil menuju ungaran. si gadis M ini ternyata pakai jeans ketat, sweater tipis dan sepatu hak 5 cm. Bayangkan terkesimanya kami. akhirnya mampir ke pasar ungaran agar ia beli sandal dan perlengkapan yg penting. Untung bukan mhasiswa keguruan biasa yg sering minim kocenya. hahaha.... dia benar2 kaget karena mobil sewaan kami nanti tidak sampai puncak ungaran. Hahahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kok enggak sekalian bilang, kalau di puncak Ungaran ada mini market haha

      Hapus
  22. dan,saya belum lihat film dan baca bukunya uncle,tapi rencana lihat filmnya hihihi....wow,keren fotonya ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. di Youtube tuh ada.. liat aja deh, kan darurat bu guru di tempat kita enggak ada bioskop

      Hapus
  23. wah... pengaruh film memang gaswat ya uncle..
    apalagi nggak dari film aja udah banyak anak muda nekat naik gunung dengan persiapan seadanya..., pdhal ktnya sih sudah dilarang2 sama petugas..
    gimana kl liat film yang nggak logis...., pasti tambah nekat..
    dan jadi kerjaannya SAR deh nyari mereka yang tersesat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Tante, cuma takut aja Semeru itu dikira rekreasi ke Ancol atau Puncak nantinya

      Hapus
  24. Kuwi ndaki gunung tahun piro? Kok gaya fotone wis ngalay ngunuk kuwi? Hahahahaha

    Hmmm, aku malah penasaran kie, belum pernah nonton filmnya juga gak pernah baca novelnya. itu yang menebang puluhan pohonnya kok gak dibahas? Jadi gossip juga, kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tuh poto jamane Pak Harto.. owh ya, kalau kabar itu saya baru tahu.. kan saya bukan pemerhati sejati pilem nasional :p

      Hapus
  25. Wah, saya malah belum nonton filmnya apalagi baca novelnya, Kang. Tapi menjadikan tulisan ini sbg input berharga untuk saya share ke teman2 yang senang akan hal2 pendakian spt ini. Kang Lozz emang keren deh pangetahuannya, kapan2 pengen ih mendaki gunung bareng kang Lozz, tapi ga mau ke Mahameru ah, takut tak mampu. Hehe.
    Apa kabar, Kang? Sehat kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah baik nih CutKak.. lah ayo mendaki gunung Tangkuban Perahu aja kapan-kapan bareng

      Hapus
  26. namanya juga film kang, pasti akan sangat berbeda dengan dunia pendakian gunung yang sebenarnya

    gambare keren cak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe kalau jawabane namanya juga film, semua akan dimaklumi sam. Setidaknya kita yang sedikit paham apa itu mendaki atau Semeru kan haruse kasih gambaran juga kondisi riil di lapangan.. Lah kalau ada orang yang hilang, sopo sing susah? Kemungkinan yo teman-teman kita nanti yang nyari juga.. hayooo

      Hapus
  27. Betul sekali Kang, harus ada yg mengingatkan seperti ini, soalnya sudah banyak banget adegan film yg ditiru oleh masyarakat. Padahal dalam film tidak semuanya sesuai dengan kenyataan, harus lebih lebay dan dramatis gitulah..
    Semoga saja tidak nanti tidak ada yang asal-asalan mendaki ke gunung-gunung di seluruh dunia, amiiiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin.. Itu harapannya mbak. Bukan hanya itu saja, semoga yang naik Semeru juga sadar akan kelestarian alam Semeru. Sebab tak bisa dipungkiri sampah atau kerusakan yang terjadi di sana, juga diakibatkan oleh para pendaki itu sendiri

      Hapus
  28. Nik Gunung Mahameru sekarang sangan memainstream para kalangan anak muda karena film 5cm ini, apalagi tanggal 17 Agustus nanti setelah lebaran. Makin ramai deh yang mendaki :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang penting saya udah lega mas nulis ini. Untuk mewanti-wanti mereka yang mungkin nanti akan berpetualang di sana. makasih udah main ya

      Hapus
  29. Kapan-kapan kopdarnya di puncak yuk ,oom :)

    hihihi,kalau saya bahas 5cm ini ya selain yg ditulis di atas, ya efek buruknya banyak pendaki2 dadakan yg gak mau berburu ilmu dulu: selalu deh stiap ada acara muncak, eh malah nemuin puncak sampah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow usul yang bagur tuh Put.. tapi kayaknya saya udah enggak kuat lagi mendaki nih. Eh kok lama dikau tak menjumbulkan diri di blogsphere?

      Hapus
  30. wah gak nyangka kalau uncle juga pernah jadi pecinta alam dan mendaki gunung seperti ninja hatori.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ninja Hatori kok naik gunung sih mas, naik genteng tuh hihihi

      Hapus
  31. Kritik yang keren bagi film ini dari pendaki senior :)
    Untuk hal-hal seperti detil mendaki gunung bagi saya cukup penting karena dari film bisa jadi akan menjadi trend yang ditiru.
    Mantap uncle ? Jadi kapan kita mendaki nih ? wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah termasuk kang Yayat juga kan terhipnotis film itu dulu. Terus nantangin saya naik Semeru.. Ke Gunung Agung aja enak Kang, belanja buku wkwkwk

      Hapus
  32. Kritiknya oke mas bero.

    Tapi kalau di novelnya, si Genta itu udah pernah ke semeru dan sempat tersesat semalem di Kali Mati, ya mungkin sedikit banyak dia tahu dan merasa tidak membutuhkan jasa porter. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya..? pinjamin saya bukune dong mas hehehe

      Hapus
  33. hhehe.. sam lozz abis tuh film, aq emang ga anak pendaki gunung meski pernah juga sih hehe, masalah celana jeans emang sam muncul pertanyaan itu, kok naik gunung pakai jeans ya? xixi..
    film waktu turun di stasiun kereta, terbayang dulu biasanya aq lewat situ dan disebelahnya ada toko yg jual marchendise arema ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wow laskar Singo Edan yo sam? Salam Aremania yo

      Hapus
    2. ga asli ngalam sih sam,, cuma 4 tahun nimba ilmu di daerah blimbing ^_^ skrg mas ku yg netap di ngalam asli jawa tengah :D

      Hapus
  34. tips keren uncle...aku pas baca novelnya aja jdi kebayang pengen ke mahameru..hihihihi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Boleh.. monggo bu guru kalau ke Mahameru. Tapi jangan lupa persiapkan fisik, mental dan perlengkapan ya.

      Hapus
  35. jadi ingat jaman single dulu, suka2 hiking n camping..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah ke Mahameru juga nih kayaknya mbak Eda

      Hapus
  36. Saya sering lihat pada menggunakan celana training tuh. . .
    Tapi, kalau pakai celana kolor malah sriwing2 ya, Kanda. . :)

    BalasHapus
  37. aku belum baca juga belum nonton filmnya uncle :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nonton dong ah.. kan Bekasi banayk tuh gedung bioskop

      Hapus
  38. duh, late nangis moco iki aku sam ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. begh, ono opo sam.. aneh-aneh wae arep nangis hahaha

      Hapus
  39. wah .. aku malah blom nonton filmnya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. di youtube udah beredar versi abal-abalnya mbak hihihi

      Hapus
  40. Cocok...hehee #ngikutin kata-kata di tipi

    Uncle mang pecinta alam sejati, filmnya diperhatikan dengan seksama...seharusnya waktu membuat film pendakian gunung harusnya naik gunung dulu getu atau setidaknya tanya yang sudah pernah naik gunung getu ya? heheee, semoga tulisan unlce dipahami oleh para penekad yang mo mendaki gunung'

    BalasHapus
  41. Belum nonton pilemnya apalagi mendaki Semeru, palingan menikmati Bromo di fajar maupun siang terik. Namun sangat menikmati aneka kisah seru pendakian Semeru, membaca medan, manajemen air sehingga sangat menghargai urun rembug uncle sebagai wujud tgjawab untuk menyapa puncak Mahameru. salam

    BalasHapus
  42. ooo jadi ini to maksud bbrp teman bilang klo 5cm itu gak asik pilm-e

    lha iyo to, summit attack itu mmg justru yg perlu bolak balik minum je. Jadi teringat aku harus remidi ke Semeru gara2 gak sampe ke puncak nih uncle. Lha summit attacknya kesiangan, udah panas banget. Diulangin lagi deh tahun depannya dan mengikuti prosedur summit attack yg bener, mulai merayap naik dari camp jam 1 malam. Wes puas kencan ama Ranu Kumbolo & Tanjakan Cinta 2 kali :D

    BalasHapus
  43. dari segi cerita persahabatan bagus ya Uncle.. apalagi motivasi diri untuk selalu berbuat yg terbaik..

    tapi ya.. mendaki itu bukan perkara gampang memang, persiapan harus matang banget.. saya baca beberapa review juga seperti yang ditulis Uncle Lozz, oleh beberapa orang yang memang pendaki...

    jujur saja mudah-mudahan "suara-suara" dari berbagai tulisan yang "bukan review" seperti yang Uncle Lozz tulis ini, bisa jadi bahan pertimbangan buat memajukan perfilman Indonesia..

    karena, bukan bidang mendaki gunung saja yang aneh, tapi dunia kedokteran juga banyaaaak bahkan seriiing yang aneh-aneh dan nggak sesuai dengan kode etik. apalagi yang di sinetron2 tuh.. hadeh, kadang ceritanya sedih karena ada yang meninggal krn gagal operasi, tapi saya malah tertawa terpingkal2 melihat gaya dokternya.. wkwkwk.. =D

    BalasHapus
    Balasan
    1. NAEK GUNUNG BUKAN MELAWAN MAUT ATO NEKAT MAU BUNUH DIRI.DENGAN BEKAL SEADANYA..

      MENDAKI GUNUNG = MENGHARGAI HIDUP
      1 X MENDAKI GUNUNG = 1 X JUGA ORNG ITU MENGHARGAI HIDUP.
      JADI KALO BERKALI-KALI DIA MENDAKI ,BERKALI- KALI JUGA DIA MENGHARGAI HIDUPNYA...

      BUTUH PENGORBANAN UNTUK SEBUAH PENCAPAIAN..

      BUKAN GUNUNG YANG TINGGI YANG SAYA TAKLUKAN MELAINKAN KEEGOISAN DIRI SAYA SENDIR
      #SIR EDMUND HILLARY

      Hapus
  44. Jujur saya sih belum nonton film nya Mas.. -_-
    Yaa ampun gak gaul kali saya!! Hehehe..

    Tapi melihat artikel Mas Lozz ini rasa2nya emang mungkin seperti itu yaa film2 yang keren.. belum tentu semua yang kita bayangkan sama dengan kenyataan!! Yang penting hati-hati aja deh..

    BalasHapus
  45. Bagus ..
    Seru banget deh baca Bukan Review Film 5 cm .. :-D

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih telah membaca artikel dengan cara seksama dan tidak dalam tempo sesingkat-singkatnya