Save Gumuk
Belakangan ini banyak pertanyaan tentang arti gambar foto profil Facebook saya. Beberapa diantaranya bertanya apa sih gumuk itu?. Ada pula yang penasaran kenapa sih Facebooker Jember kok sekarang terlihat intens bicara soal gumuk?. Ya, meski ada satu dua tulisan saya yang menyinggung soal gumuk ini. Tapi, saya lihat memang tidak terlalu banyak informasi di mesin pencarian yang mengupasnya. Kecuali beberapa tulisan dari dulur-dulur pencinta alam Jember sendiri. Beda banget dengan info soal Jember Fashion Carnaval (JFC) yang terlihat gemerlap di sana-sini. Padahal jauh-jauh sebelum JFC bergema di seantero dunia, gumuk sudah menjadi ciri khas Jember. Bahkan ada pula yang menjuluki Jember sebagai "kota seribu gumuk".
Apa beda gunung/bukit dengan gumuk?
Ada yang mengatakan jika gumuk itu tak jauh beda dengan bukit kecil. Ya, secara visual memang gumuk tak jauh beda dengan sebuah bukit kecil. Tapi, sangat berbeda dari sisi proses pembentukan. Gunung atau bukit terjadi karena aktifitas lempeng di perut bumi yang mengakibatkan munculnya tonjolan pada permukaan tanah. Sedang gumuk terjadi akibat muntahan material berupa lava dan lahar dari ledakan besar gunung berapi pada masa silam. Material dari ledakan gunung Raung purba inilah yang akhirnya menjadi jajaran gumuk-gumuk di Jember. Daerah di Jember yang relatif dekat dengan gunung Raung, kebanyakan memiliki gumuk-gumuk relatif berukuran tinggi. Sebaliknya semakin menjauh dari pusat ledakan itu berarti semakin kecil pula ukuran gumuk-gumuk yang ditinggalkan.
Bentang alam gumuk itu langka dan kebanggaan Indonesia
Ya, saya sangat berani mengatakan jika gumuk itu adalah kebanggaan Indonesia sebab langka di dunia ! Selain Jember, daerah yang memiliki bentang alam dengan formasi gumuk-gumuk itu hanya ada dua di dunia. Satu tempat di Tasikmalaya, yang merupakan hasil dari letusan Galunggung. Dan satu lagi di sekitar wilayah gunung api Bandai San yang ada di Jepang.
Apa benar Jember memiliki seribu gumuk?
Ya ! tapi itu dulu. Bahkan lebih dari seribu gumuk jumlahnya. Menurut pendataan tahun 2005 gumuk Jember hanya tersisa 823. Dan kabar terakhir dari pendataan teman-teman pencinta alam menyebutkan jika sekarang jumlah gumuk di Jember hanya tersisa kira-kira 600-an saja. Lalu kenapa bisa drastis berkurang? Yah, seperti biasa sulapan manusia dengan bumbu peningkatan ekonomi selalu saja membuat isi bumi ini terancam tak lestari. Oh ya apa kabar gumuk-gumuk di Tasikmalaya?
Apa sih pentingnya gumuk buat orang Jember?
Pertanyaan ini sering diajukan pada saya. Apa sih perlunya orang Jember ngurusi tonjolan tanah? Biasanya saya cuma jawab jika kita itu perlu loh ngurusi tonjolan tanah bernama gumuk, sebelum kita sendiri masuk ke dalam tonjolan tanah lainnya alias kuburan hehehe. Oke deh waktunya serius sekarang......
Pernahkah anda melihat di televisi jika Jember kembali diterjang bencana alam bernama puting beliung? Ya, topografi Jember itu bisa dikatakan berupa lembah, sebab diapit oleh dua pegunungan besar yaitu Kumitir dan Hyang Argopuro. Nah, karena itulah Jember berpotensi menerima hembusan angin yang sangat kencang dari kedua pegunungan tersebut. Apa beda gunung/bukit dengan gumuk?
Ada yang mengatakan jika gumuk itu tak jauh beda dengan bukit kecil. Ya, secara visual memang gumuk tak jauh beda dengan sebuah bukit kecil. Tapi, sangat berbeda dari sisi proses pembentukan. Gunung atau bukit terjadi karena aktifitas lempeng di perut bumi yang mengakibatkan munculnya tonjolan pada permukaan tanah. Sedang gumuk terjadi akibat muntahan material berupa lava dan lahar dari ledakan besar gunung berapi pada masa silam. Material dari ledakan gunung Raung purba inilah yang akhirnya menjadi jajaran gumuk-gumuk di Jember. Daerah di Jember yang relatif dekat dengan gunung Raung, kebanyakan memiliki gumuk-gumuk relatif berukuran tinggi. Sebaliknya semakin menjauh dari pusat ledakan itu berarti semakin kecil pula ukuran gumuk-gumuk yang ditinggalkan.
Bentang alam gumuk itu langka dan kebanggaan Indonesia
Ya, saya sangat berani mengatakan jika gumuk itu adalah kebanggaan Indonesia sebab langka di dunia ! Selain Jember, daerah yang memiliki bentang alam dengan formasi gumuk-gumuk itu hanya ada dua di dunia. Satu tempat di Tasikmalaya, yang merupakan hasil dari letusan Galunggung. Dan satu lagi di sekitar wilayah gunung api Bandai San yang ada di Jepang.
Apa benar Jember memiliki seribu gumuk?
Ya ! tapi itu dulu. Bahkan lebih dari seribu gumuk jumlahnya. Menurut pendataan tahun 2005 gumuk Jember hanya tersisa 823. Dan kabar terakhir dari pendataan teman-teman pencinta alam menyebutkan jika sekarang jumlah gumuk di Jember hanya tersisa kira-kira 600-an saja. Lalu kenapa bisa drastis berkurang? Yah, seperti biasa sulapan manusia dengan bumbu peningkatan ekonomi selalu saja membuat isi bumi ini terancam tak lestari. Oh ya apa kabar gumuk-gumuk di Tasikmalaya?
![]() |
sumber : dokumentasi VJ Lie |
Pertanyaan ini sering diajukan pada saya. Apa sih perlunya orang Jember ngurusi tonjolan tanah? Biasanya saya cuma jawab jika kita itu perlu loh ngurusi tonjolan tanah bernama gumuk, sebelum kita sendiri masuk ke dalam tonjolan tanah lainnya alias kuburan hehehe. Oke deh waktunya serius sekarang......
- Sebagai benteng alam bagi Jember
Lantas apakah ada cara agar Jember bisa terhindar dari angin puting beliung? Saya jawab, TIDAK ADA ! Kecuali satu yaitu meminimalisir agar laju angin tidak terlalu besar terjadi. Dan disinilah pentingnya gumuk-gumuk sebagai benteng alami bagi kota Jember. Semacam tembok-tembok yang memecah konsentrasi laju angin. Dari yang awalnya kencang, lalu terpecah perlahan-lahan secara alami akibat membentur gumuk. Membuat kualitas angin menjadi sejuk atau bahasa kerennya sepoi-sepoi. Makanya jangan heran jika tembakau Jember di masa lampau begitu terkenal hingga pasaran Bremen, Jerman. Sebab, tanaman tembakau suka sekali udara sepoi-sepoi khas Jember.
- Sebagai tandon air bersih
- Sebagai tempat suaka satwa mini
Adanya vegetasi berarti adapula kehidupan satwa di dalamnya. Pun demikian dengan gumuk. Menjadi semacam benteng terakhir bagi satwa kecil dan unggas macam ayam hutan, kera, macan rembang, tupai, rase, landak, ular, kijang, hingga berbagai jenis burung.
- Sebagai laboratorium alam konservasi dan wisata
Selama ini saya berpikir andai saja pemerintah peduli dengan keberadaan gumuk-gumuk itu, tentu akan menjadi aset ilmiah yang tak ternilai bagi Indonesia. Bukan justru sebaliknya menjual kepada investor atau pribadi yang ujung-ujungnya hanya untuk dikeruk dengan dalih sisi ekonomi. Hanya memberi keuntungan sesaat bagi segelintir orang saja. Padahal mungkin saja akan berguna bagi pendidikan generasi kita.
Yah, menjadikan gumuk-gumuk itu sebagai laboratorium alam dengan cara menanami aneka pohon yang telah langka. Tentunya beberapa tahun yang akan datang akan berguna bagi dunia pendidikan kita. Tak harus blusukan ke dalam rimba raya jika ingin meneliti atau melihat pohon langka tertentu. Cukup ke gumuk-gumuk itu saja. Murah, meriah dan tak beresiko dimangsa macan hahaha. Menjadi tempat rekreasi alternatif keluarga, bumi perkemahan, bird watching area atau pengamatan burung atau apa saja yang tak semata memikirkan komersil sesaat saja.
Dulur blogger, mungkin itulah sekilas gambaran dan opini saya soal gumuk. Mahakarya Tuhan yang oleh orang-orang pintar hanya dianggap sebagai tonjolan. Padahal keberadaannya begitu penting bagi masyarakat Jember kebanyakan. Kebanggaan Jember juga Indonesia, karena hanya ada tiga saja di dunia. Yah, gumuk itu memang benar sekarang hanya sebatas bongkahan tanah dengan perhiasan ilalang dan pohon tak beraturan. Tapi, andai saja kita mau berpikir dan menyisihkan sedikit rasa sayang, insya Allah gumuk-gumuk itu akan berguna bagi generasi mendatang. Selamatkan gumuk Indonesia !
Note : dulur blogger, besok malam dulur-dulur Jember akan mengadakan acara solidaritas "Save Gumuk". Insya Allah nanti akan diisi dengan obrolan edukasi tentang pentingnya gumuk bagi kita. Sekaligus bentuk keprihatinan akan gumuk-gumuk Jember yang diambang kepunahan. Acara "ini juga akan melakukan penggalangan dana berupa menjual kaos #savegumuk, pengumpulan koin dan botol bekas untuk dijual. Yang hasilnya seratus persen dihibahkan untuk membeli gumuk. Jika ada diantara dulur blogger yang berkenan memberikan sedikit cinta pada gumuk kita, dengan senang hati diiperkenankan menghubungi inbox Facebook saya. Atau mungkin Menteri Lingkungan Hidup mau urunan beli gumuk?
Bukan, bukan berarti kami melakukan semacam revolusi. Tapi, hanya sekedar membuka ingatan bersama jika segala sumber daya alam macam gumuk, gunung, sungai, laut dan lain sebagainya itu bukan milik golongan atau perseorangan. Semua adalah milik kita bersama, milik bangsa Indonesia. Bukan untuk pribadi atau satu golongan saja. Sebab saya takut, jika seseorang rakus ingin memiliki gumuk-gumuk kecil itu, lama-lama dia pun akan serakah pula hendak memiliki pulau-pulau kecil kita. Salam lestari Indonesia !
Memang sudah sepatutnya hal ini tidak di sepelekan, karena bila melihat dari dasar berdirinya negara ini, semuanya sudah di atur dalam UU. Namun, sebagai masyarakat kecil kita hanya dapat melihat dan menyaksikan dan lepih parah lagi bila alam yang telah berbicara, masayrakatlah yang manjdi korban karena ketidak setablian dan penyeimbangan yang terjadi di alam. Semoga semua yang terkait dapat merubah pola pikirnya ya Kang.
BalasHapusSemoga segera taubat ora main babat yo Kang..
Hapusini tho penjelasan yang dari tuiter itu
BalasHapusjember ada gumuk juga ya
selama ini yang aku dengar, gumuk pasir cuma ada di parangtritis...
Yo kang.. Gumuk Pasir itu juga unik.. dan patut dilestarikan..
HapusItu juga yang aku dengar
HapusKatanya ekosistem semacam di Parangtritis cuma satu satunya di dunia. Cuma aku bingung dengan pelestariannya. Sekarang dihijaukan dan mulai jadi hutan, ga berbentuk padang pasir lagi.
Itu artinya lestari atau ilang, om..?
Mungkin istilahe "remang-remang" Kang hahaha
HapusSudah baca di blog sebelah, Uncle. :p
BalasHapusDi jember buanyak gumuk yo.
Kalo di sini, gumuk itu diartikan tanah (hak milik). Contohnya nasehat ibu, "Nduk, mengko yen duwe dwit, tuku gumuk yo."
:p
Oh ya... kalau gemuk berarti sampean yo mbak Sus hahaha
HapusGumuk memang banyak manfaatnya.
BalasHapusDesa saya nggak punya gumuk
Salam hangat dari Surabaya
Segala ornamen alam yang dibuat Tuhan tentunya bermanfaat bagi keseimbangan alam ya De...
HapusTernyata manfaat gumuk banyak skali ya uncle...
BalasHapusBanyak dong.. Thifa aja tahu... :p
HapusGumuk kerang jik ono opo wis roto Kang ?
BalasHapusSangat disayangkan kalo gumuk-gumuk yang ada di seputar njember harus berkurang tanahnya dikeruk untuk bikin perumahan dan tanahnya dijual. Jare mbahku, ngedol lemah kie ora apik di delok soko banyak aspek. Termasuk merubah ekosistem, sing iso ngrugino menungso dewe.
Langkah yang patut diacungi jempol kang dengan program iki. Tak dungakno masalah iki iso terangkat secara nasional ben ora akeh gumuk sik ilang padhang dadi duwik dan menggendutkan perut sebagian kecil orang
Saya dulu lihat gumuk Kerang sudah krowak kang.. entah sekarang. Jarang lewat sana sih.. Bukan hanya gumuk Jember kang, tapi juga di Tasikmalaya perlu pula dilindungi..
Hapusmeskipun disini ndak ada gumuk, tapi keserakahan manusia juga ada. Pernah liat waktu mau ke telaga Sarangan, ada bukit yg tanahnya diambil pake alat2 berat gitu ampe rata dengan jalan raya. Menyedihkan sekali, ndak ada pohon dan nampak gersang sekali
BalasHapusPokoe opo wae yang awalnya tenang adem ayem, pasti ada aja yang bikin ulah mau mengusiknya mbak Tar..
HapusGumuk itu kelebihan berat badan bukan yah? ha ha ... :P
BalasHapusJangankan sing cilik kang, wong sing gunung gede2 abis kok buat pembukaan lahan...Mau bagaimana lagi. Penduduk bumi semakin padat. sedangkan besar bumi ga pernah nambah..jadi yaa gitu deh. Pertambahan penduduk tidak seimbang dengan angka kematian.
Awas dilihat mbak Susi loh kang komen sampean..
HapusJember ora padat kok Kang.. tapi yaa gitu juga deh..
Mentang-mentang gemuk dia-nya. gitu jitak saja Mas Loss...
Hapussaya sendiri belum pernah melihat yang namanya gumuk, dibayangan saya yang ada bukit2 kecil. semoga saja sama lah.
BalasHapusdi tempat saya Banten ada banyak yang seperti itu, tapi kata orang tua saya sambil bercanda, itu adalah tempat orang Jepang dan Belanda menaruh harta karun mereka.
padahal sebenarnya itu merupakan sisa-sisa letusan gunung krakatau. hanya bedanya tidak menjadi kebanggaan daerah kami.
kalau merupakan kebanggaan tentu harus di jaga kelestariannya. baik dari flora dan fauna, jangan sampai terbengkalai dan akhirnya jadi tempat mendulang uang untuk perseorangan. #save gumuk.
Secara visul mungkin seperti bukit mas, tapi kalau gumuk relatif rendah dari bukit.. matur nuwun dukungannya mas
Hapusmalah saya tahu arti sebenarnya Gumuk itu dari sampean kang, wah lagi2 saya dapat pengetahuan baru hari ini. semoga para pecinta alam jember makin bisa menjaga kelestarian alamnya :)
BalasHapusAamiin.. yo melakukan apa yang harus dilakukan sebelum terlambat Kang.. Meski sebenare yang dihadapi adalah para raksasa, tapi setidaknya kita tak hanya diam saja berpangku tangan.
Hapusbaru tau gumuk ya pas diajak jalan2 mbk ke pantai papuma kemarin,siap2 mau motrek lha kok mbk bilang kalo deketnya ada kuburan..hiyyyaaa g jadi motret,takut :D
BalasHapusYa bu guru.. kadang ada diantaranya dimanfaatkan sebagai lahan kuburan.. tapi itul ebih baik kok menurut saya ketimbang dibabat habis dan hilang satu persatu benteng alami Jember.
HapusMasaallah Mas....tak pikir tadinya Save Gemuk ternyata Gumuk to...jadi malu ni. Memang Jember di kelilingi gunung, Hani bisa lihat pas perjalanan ke Bali di Gunung atau bukit itu tampak seperti pintu gerbang....tapi untungnya sejuk...
BalasHapusNah.. kapan nih kira-kira mas mudik parkir dulu ke kota seribu gumuk?
Hapuswah baru tau ini mas..
BalasHapuspentingnya soaialisasi tentang gumuk dan manfaatnya ya mas..supaya byk org lebih tau dan ikut mendukung program ini..
ikut mendukung juga mas..tetap semangat teman2 teman jember :))
Senang berkenalan dengan Jember.
BalasHapusGimana acaranya, mas Lozz? Semoga sukses dan pelestarian gumuk bia dijalankan dengan baik dan bermanfaat.
BalasHapusiku gumuk nang daerah omahku kan sam? :D
BalasHapusDi Tasikmalaya dan Ciamis banyak bukit-bukit kecil seperti ini. Kalau di Ciamis disebut gunung juga.
BalasHapusDi Tasikmalaya terutama di jalan yang sejalur dengan terminal baru beberapa tahun yang lalu sudah banyak yang diambil pasir dan batunya juga.
Setuju banget --> Selamatkan Gumuk :)
Memang kenapa Gumuknya Pak? Suka digali buat dicari pasirnya ya?
BalasHapuspengen tahu bentuk gumuk di jember. saya dulu punya teman di jember, bahkan pernah main, daerah leces kalau ngga salah. tapi kok ngga pernah cerita ya dianya soal gumuk? ah,
BalasHapusG Raung sangat lekat bagi kami dan dilekatkan pada Kedelai Varietas Raung
BalasHapusBegitu banyak manfaat gumuk dalam ekosistem lestari ya Mas, senang sekali ikutan belajar tentang gumuk melalui postingan ini. Salam gumuk
Kang... mbok ditampilkan contoh Gumuk yang di Jember. Saya barusan nyari2 lewat google maps https://maps.google.com/ penasaran je... :)
BalasHapusAbis liat gunung Raung dan Gunung Argopuro dari google map.... wuapik.
BalasHapusgemuk itukan y relative mas, positive saja, berarti tanda ne subur dan seneng mangan
BalasHapusaku belum pernah liat penampakan aslinya, uncle. kalo di semarang adanya bukit yang tanahnya suka longsor -_-" btw, kaosnya dijualkah? hehe. naksir :D
BalasHapusowh,,jd itu tah gumuk,,hemm,,dulu pas aku kecil ada bnyk,,tp skrg dh ampir jd rumah semua,,ato diratakan jd lapangan malah,,
BalasHapusMiris bacae mas. terkadang saya sendiri heran. mulai tambah umur, gak berkaca dari kehidupan orang dusun, alami, gak ngusik ekosisitem. Malah buang sampah, nebang, konsumtif.
BalasHapusKepengene kalo dah jadi blogger, nulis artikel teknologi, moderenisasi, padahal salah kaprah semua. saya sadar tapi terlambat jauh dari blog personal seperti ini
kedepannya, Saya cuma naruh harapan ke WEBE bisa punya bendera sendiri untuk hal yang semacam ini, dibentengi sama pakde, semua orang termasuk sampean...agar bisa lebih dekat satu sama lain.
sori ini kunjunganku mesti terakhir. telat pisan :v
Foto gumuknya kok ga ada? saya masih membayangkan seperti apa gumuk itu, karena saya baru denger ttg gumuk. #heykemanaajalu# :)
BalasHapusSaya paling suka lihat secuil tanah yang biasanya ada di tengah sawah seperti ini, Lozz...gumuk ta namanya?
BalasHapusBiasanya saya perhatikan kalo saya dalam perjalanan kereta api, ah, ah, saya selalu berandai-andai, kalo saya tinggal disana gimana ya?
Kayaknya enak, jauh dari permasalahan dan pasti bikin tenang pikiran...hihihi, padahal yo mesti gak betah lah, wong ora ono opo-opo...
Save gumuk?
Setujuuuuu!
Aku dari kemarin2 emang penasaran apa yang dimaksud dengan "gumuk" itu.
BalasHapusSetelah baca postingan Kang Lozz ini
wah. meniko to uncle..gumuk..
BalasHapussya tanya suami, yang dulu sma nya di makn jember.katanya gumuk di sana memang banyak ^^
pengeeeeeeeeeeeeeennnnnnnnnnnnnn
BalasHapusTrnyata itu toh arti GUMUK,pantsan kampung tempatku tinggal kyk bukit" gitu.tapi anehnya siapa yg ngasi nama gumuk yaaah.???
BalasHapusMakasih artikelnya menarik bangt,kebtulan skali nama kampung sy GUMUK dan kami sedang mencari asal usul kampung kami dan artikel ini mungkin bisa jadi bahan kami soalnya kampung kami mirip bangt dg pnjlasan di atas.sangat" mirip sekali
Nama kampung kami GUMUK tapi tmpatnya di desa loyok-lombok timur-NTB-indonesia.
assalamualaikum wr wb.
BalasHapussaya tertarik dengan artikel anda. saya mau sedikit mencari tau, beberapa gumuk di pusat kota jember kan sudah menjadi perumahan, apakah itu berdampak buruk? apabila ada dampaknya kira-kira dampaknya apa?
saya sangat berharap dari jawaban saudara
terimakasih.
wassalamualaikum wr wb