Bangga Itu....
Suatu hari seorang pengguna di warnet setengah berteriak ke saya, "Ih mas ndeso ah mutar lagu gituan.". Saya cuma tersenyum saja. Hanya diam. Lalu menjawabnya dengan menaikkan seperempat level suara musik dari sebelumnya. Sambil berpikir dalam hati, apa ada yang salah dengan musik yang saya putar? Apa karena kendang kempul liriknya berbahasa Osing, lalu dicap musik ndeso? Padahal kendang kempul itu karya orang Indonesia. Jadi jika bukan kita, lantas siapa lagi yang akan membanggakannya?
Kebanggaan itu menurut saya adalah mencintai sepenuh hati dan tak malu mengakui apa yang menjadi milik sendiri. Juga tak mudah silau dengan sesuatu pada orang lain yang kita anggap hebat. Kendang kempul mungkin hanya musik tradisional yang tak begitu terkenal. Kalah pamor dengan Gangnam Style, atau mungkin dianggap tak sekeren Boyband Korea. Meski sederhana dan biasa tapi jika milik kita itulah kebanggaan buat saya. Sebaliknya sehebat atau sekeren apa pun jika bukan milik sendiri itu hanya kebanggaan nisbi.
Mobil Esemka memang tak secanggih Mercy, tapi disitu ada kebanggaan sebab karya anak negeri. Sama sekali saya tak bangga dan ikut latah mengeluk-elukkan Obama saat dia menjadi orang nomer satu di Amerika. Bagi saya Obama bukan orang Indonesia. Jadi, kenapa pula saya harus bangga? Toh di negeri ini tak kurang tokoh yang bisa dijadikan inspirasi atau pun idola. Macam bang Idin yang berjuang di bantaran sungai ibukota. Atau, pak Sariban yang memilih berkarya di atas tetumpukan sampah. Yah, mereka yang seharusnya kita banggakan. Meski kecil dan dianggap remeh, tapi tak harus malu kita mengakuinya. Boleh saja suka dengan glamour negeri di luaran sana, tapi kebanggaan nomer satu harus tetap pada Indonesia.
Bangga itu tentang sikap setia apa pun kondisinya. Kita tahu hingga hari ini Indonesia sedang dilanda euforia gara-gara bola. Semua orang nampak begitu bangga dengan sepakbola Indonesia. Padahal jauh sebelumnya, umpat serta cacian seringkali menjadi langganan timnas kita. Kini seakan semua orang berbalik memiliki nasionalisme yang tinggi gara-gara timnas U19 mampu membuat keok Korea. Dan beberapa hari kemudian justru nasionalisme itu mulai luntur seperti semula. Yah, kembali caci, umpatan dan komentar tak bernada bangga muncul seperti semula. Alasannya sederhana, timnas senior hanya mampu imbang melawan raksasa sepakbola lainnya.
Seperti halnya seorang sahabat sejati, bangga itu harus ada apa pun kondisi yang terjadi. Tak hanya mau turut tertawa bangga saat kita berjaya. Tapi, saat kondisi kita turun atau remuk sekalipun, bangga itu harus selalu ada. Seperti layaknya seorang sahabat sejati yang selalu ada dalam suka dan duka, itulah kebanggaan sejati menurut saya.
Bangga itu juga tentang menghargai sebuah proses. Di rumah saya mempunyai dua buah laptop. Dari segi spesifikasi laptop baru saya lebih canggih dari laptop lama. Pun demikian dari segi harga, laptop baru dua kali jauh lebih mahal dari laptop lama saya. Tapi soal kebanggaan justru saya lebih bangga dengan laptop lama. Kenapa begitu? Sebab saya menghargai proses ketika mendapatkannya.
Laptop baru saya beli lewat cara yang biasa. Tiada yang spesial sebab saya membelinya dengan duit hasil kerja sebagai satpam dunia maya. Lain halnya dengan laptop lama, proses membelinya berawal dari sebuah impian. Yah, impian yang kala begitu mendamba ada sebuah piranti ajaib bernama komputer di kamar saya. Bernilai historis, sebab saya mendapatkannya lewat jutaan klik jari jemari saya. Menjadi seorang pemulung sen demi sen pada sebuah bisnis online amatir bernama PTC. Bahkan jika perlu saya rela berpancal ria sejauh 25 kiloan menuju jantung kota. Mencari pinjaman komputer dan akses internet cuma-cuma pada teman-teman mahasiswa. Tujuannya satu, agar proses mengumpulkan sen di tabungan paypal saya terus berlanjut.
Itulah proses yang saya jalani. Misi yang oleh teman-teman saya dianggap sebagai hal yang mustahil bin percuma. Tapi justru membuat saya makin tertantang untuk meraihnya. Lalu hasilnya? Wow, saya puas sekaligus bangga ketika sore itu sebuah laptop benar-benar menjadi milik saya. Memang bukanlah sebuah laptop baru, tapi ada perjuangan saya disitu. Tak mewah seperti halnya laptop kedua, tapi nilai historisnya membuat saya lebih sayang dan bangga pada laptop lama.
Puas itu ada dalam hatinya, tapi tak seorang pun tahu berapa kadar yang dirasa, kecuali Tuhan saja. Bangga itu ada di dalam dada, tapi tak membuatnya lena. Menyadari jika setelahnya dia akan kembali turun ke awal mula. Bangga tak membuatnya lupa diri, apalagi terinfeksi virus tinggi hati. Sebab, sekalipun mampu menapak langit. Dia sadar, jika di atas langit masih ada pula langit yang akan mengangkangi.
Dulur blogger, bagaimana dengan Anda? “Apa Arti Kebanggaan Buat Elo?”
Kebanggaan itu menurut saya adalah mencintai sepenuh hati dan tak malu mengakui apa yang menjadi milik sendiri. Juga tak mudah silau dengan sesuatu pada orang lain yang kita anggap hebat. Kendang kempul mungkin hanya musik tradisional yang tak begitu terkenal. Kalah pamor dengan Gangnam Style, atau mungkin dianggap tak sekeren Boyband Korea. Meski sederhana dan biasa tapi jika milik kita itulah kebanggaan buat saya. Sebaliknya sehebat atau sekeren apa pun jika bukan milik sendiri itu hanya kebanggaan nisbi.
Mobil Esemka memang tak secanggih Mercy, tapi disitu ada kebanggaan sebab karya anak negeri. Sama sekali saya tak bangga dan ikut latah mengeluk-elukkan Obama saat dia menjadi orang nomer satu di Amerika. Bagi saya Obama bukan orang Indonesia. Jadi, kenapa pula saya harus bangga? Toh di negeri ini tak kurang tokoh yang bisa dijadikan inspirasi atau pun idola. Macam bang Idin yang berjuang di bantaran sungai ibukota. Atau, pak Sariban yang memilih berkarya di atas tetumpukan sampah. Yah, mereka yang seharusnya kita banggakan. Meski kecil dan dianggap remeh, tapi tak harus malu kita mengakuinya. Boleh saja suka dengan glamour negeri di luaran sana, tapi kebanggaan nomer satu harus tetap pada Indonesia.
Bangga itu tentang sikap setia apa pun kondisinya. Kita tahu hingga hari ini Indonesia sedang dilanda euforia gara-gara bola. Semua orang nampak begitu bangga dengan sepakbola Indonesia. Padahal jauh sebelumnya, umpat serta cacian seringkali menjadi langganan timnas kita. Kini seakan semua orang berbalik memiliki nasionalisme yang tinggi gara-gara timnas U19 mampu membuat keok Korea. Dan beberapa hari kemudian justru nasionalisme itu mulai luntur seperti semula. Yah, kembali caci, umpatan dan komentar tak bernada bangga muncul seperti semula. Alasannya sederhana, timnas senior hanya mampu imbang melawan raksasa sepakbola lainnya.
Seperti halnya seorang sahabat sejati, bangga itu harus ada apa pun kondisi yang terjadi. Tak hanya mau turut tertawa bangga saat kita berjaya. Tapi, saat kondisi kita turun atau remuk sekalipun, bangga itu harus selalu ada. Seperti layaknya seorang sahabat sejati yang selalu ada dalam suka dan duka, itulah kebanggaan sejati menurut saya.
Bangga itu juga tentang menghargai sebuah proses. Di rumah saya mempunyai dua buah laptop. Dari segi spesifikasi laptop baru saya lebih canggih dari laptop lama. Pun demikian dari segi harga, laptop baru dua kali jauh lebih mahal dari laptop lama saya. Tapi soal kebanggaan justru saya lebih bangga dengan laptop lama. Kenapa begitu? Sebab saya menghargai proses ketika mendapatkannya.
Laptop baru saya beli lewat cara yang biasa. Tiada yang spesial sebab saya membelinya dengan duit hasil kerja sebagai satpam dunia maya. Lain halnya dengan laptop lama, proses membelinya berawal dari sebuah impian. Yah, impian yang kala begitu mendamba ada sebuah piranti ajaib bernama komputer di kamar saya. Bernilai historis, sebab saya mendapatkannya lewat jutaan klik jari jemari saya. Menjadi seorang pemulung sen demi sen pada sebuah bisnis online amatir bernama PTC. Bahkan jika perlu saya rela berpancal ria sejauh 25 kiloan menuju jantung kota. Mencari pinjaman komputer dan akses internet cuma-cuma pada teman-teman mahasiswa. Tujuannya satu, agar proses mengumpulkan sen di tabungan paypal saya terus berlanjut.
Itulah proses yang saya jalani. Misi yang oleh teman-teman saya dianggap sebagai hal yang mustahil bin percuma. Tapi justru membuat saya makin tertantang untuk meraihnya. Lalu hasilnya? Wow, saya puas sekaligus bangga ketika sore itu sebuah laptop benar-benar menjadi milik saya. Memang bukanlah sebuah laptop baru, tapi ada perjuangan saya disitu. Tak mewah seperti halnya laptop kedua, tapi nilai historisnya membuat saya lebih sayang dan bangga pada laptop lama.
Melelahkan sekali kalau kita mengejar pengakuan dari orang lain. Kepuasan itu dari sini bukan dari sanaDulur blogger, saya sepakat dengan kalimat yang ada dalam video CineUs Book Trailer. Memang menjadi sebuah pekerjaan yang melelahkan jika kita melakukan sesuatu hanya untuk mencari pengakuan dan pujian. Sebab, puas itu sebenarnya sederhana dan ada dalam hati kita. Bukan tentang soal seberapa banyak sanjung pujian yang nanti kita dapatkan. Kebanggaan itu layaknya seorang pendaki yang berusaha menggapai puncak idamannya. Harus bersusah payah melalui halang rintang yang ada. Ketika sudah menapak puncak, puas dan bangga itu ada di dalam hatinya. Selebihnya hanya sepi saja yang dia temui. Tak ada baliho sebagai tanda ucapan selamat datang. Tiada sorak sorai penonton pula yang memberinya tepuk tangan.
Puas itu ada dalam hatinya, tapi tak seorang pun tahu berapa kadar yang dirasa, kecuali Tuhan saja. Bangga itu ada di dalam dada, tapi tak membuatnya lena. Menyadari jika setelahnya dia akan kembali turun ke awal mula. Bangga tak membuatnya lupa diri, apalagi terinfeksi virus tinggi hati. Sebab, sekalipun mampu menapak langit. Dia sadar, jika di atas langit masih ada pula langit yang akan mengangkangi.
Dulur blogger, bagaimana dengan Anda? “Apa Arti Kebanggaan Buat Elo?”
Sama dengan musik dangdut yang dianggap kampungan dan ga berkelas. Nah, pertanyaannya adalah: siapa yang mengklaim demikian? Lalu orang pada ikuta2an mendukungnya? Memangnya ada lembaga khusus yg memutuskan sutu aliran musik kampungan, setengah ndesit, kota, keren, kece, dan eylekhan? Yang penting essip menikmati dunia pilihan kita dengan jujur dan penuh tanggung jawab. Itulah kenikmatan dan kebanggaan sejati :)
BalasHapusKebanggan tidak bisa kita beli tapi harus kita cari
BalasHapusBangga itu dalam dada tapi tak membuat lena, atau menepuk dada.
BalasHapusSemoga sukses ngontesnya.
Aku bangga dengan kehidupan yang aku jalani.
BalasHapusbener mas, bangga itu berasal dari dalam diri, bukan di luar sana ...
BalasHapusSemoga sukses ngontesnya mas ...
Bangga aq sam karo sampeyan ketika ku baca sampeyan masih menghargai laptop yg awal dilihat bagaimana proses mendapatkannya. jadi ingat gimana PC dan HP ku pertama kali yg kudapat dari uang ku sendiri sampe skrg masih ada.
BalasHapussaat itu mulai tahun 2005-2007 nabung, ngumpulin beasiswa hingga masuk ke toko bilang,"mas prosescor paling bagus apa (saat itu) Core2 duo 2.0' yo wis aq beli itu hehe..kalo HP bisa beli dg uang sendiri itu SE K770i habis diajak proyekan dosen sam..
meski ga sedramatisir kisahe sampeyan tapi yo tiba2 aq kelingane sam *Piss* :D
Aku seneng kata-katane sampean sam... Bangga tak membuatnya lupa diri, apalagi terinfeksi virus tinggi hati. Sebab, sekalipun mampu menapak langit. Dia sadar, jika di atas langit masih ada pula langit yang akan mengangkangi. Soale bangga karo sombong bisa jadi bedanya sangat tipis...
BalasHapusBangga itu adanya dalam hati sendiri
BalasHapusMakanya aku pake prinsip mendingan geer daripada minder
*bangga yang kebablasan :D
bangga itu sebenarnya g jauh2 dari senang dan bahagia ya uncle.... ^^
BalasHapusAku yakin mas Lozz, kalau dengar lagu dangdut pasti jempolnya goyang.. hahaha.. dulu waktu kecil aku sering juga dengar lagu dangdut, bahkan sampe,hafal. apalagi lagi alam, Mbah Dukun.
BalasHapusTapi meski terkesan kampung jujur saya bangga kok dengan dangdut, lagu diluar negri mana ada yang bikin jempol goyang hahaha
Banggalah pada ploduk-ploduk Indonesia halaaahhh... malah nirukno iklan. Aku bangga wes pokokmen sama tulisan sampean ini sam, jadi mengingatkanku yang jarang bangga pada bangsaku sendiri :)
BalasHapusBangga itu Sederhana...misalnya bangga dengan ayah dan menulis artikel tentangnya di GA semut pelari :p teteuppp.....
BalasHapusSaya juga ndeso, senengane campursari ehehe.
BalasHapusSesuatu yg kita dapat melalui perjuangan, akan jadi kebanggaan tersendiri, ya uncle :)
terkadang kita memang terlena dengan barang yang lebih canggih dan seringnya sih melupakan barang yang pertama kali kita dapatkan dengan usaha yang lebih. hm, suka dengan tulisan ini :)
BalasHapusKatanya gak ngerti Korea tapi ngomingnya Gangnam Style...ngapusi mas iki rek...
BalasHapusBangga itu memang sederhana sebenarnya ya Mas...
BalasHapusMenghargai pencapaian kita sekecil apapun itu.
Good luck ya....
utk seorang pendaki, kebanggan hrsnya gak sebatas bs foto2 di puncak :)
BalasHapusWaah, pinjam laptop barunya dongs, Kanda. :)
BalasHapusSetujuu, kebanggaan lebih menghargai pada sebuah proses. Semoga menang, dan Androidnya buat saya. Hahahaa
Tingkat kepuasan terhadap sesuatu kayaknya ada hubungan dengan penilaian terhadap diri sendiri ya, Mas. Yang merasa dirinya berharga, akan menghargai semua yang disukainya. Even musik yang kata orang ndeso, kita tak melekatkan itu sebagai sesuatu yang rendah ya..#halahakuikingomongaopoto
BalasHapuswah suwe ndak muncul sam. Ora kober online.:D
BalasHapusIni kebanggaan yang hakiki menurut sampean, beragam versi, tujuane seirama. Sukses ngontese, mugo2 aku yo kecipratan bukune ..Amiin
Untuk musik saya malah bangga dan senang mendengarkan campursari. Musiknya lebih asyik dan liriknya terdengar gokil. Pas seperti kondisi sehari-hari.
BalasHapusSaya suka bgt tulisan nya Mas :D
BalasHapusInsya Allah Menang yah *berasa jadi juri nya* xixixi...
Satpam dumai? Wah profesi baru nih. baru tau. Sukses ngontesnya ya :)
BalasHapusbangga itu adalah ketika bisa melakukan hal yang lebih baik serta selangkah lebih maju :D
BalasHapusPertanyaan yang susah, Lozz...
BalasHapusYang pasti kebanggaan itu bukan untuk dipamerkan sana-sini.
Bangga itu pasti lebih indah bila dinikmati sendiri...kalaupun orang perlu tahu, cukup sekedarnya saja, supaya nilai rasa bangga itu tetap sakral untuk dinikmati.
Selamat ngontes, Lozz...koyoke menang maneh iki :D
Boleh bangga tapi jangan sampai kebanggaan menjadi sombong.. KEpuasan dan bangga bisa juga jadi menyukuri apa yang ada.
BalasHapusBaaaang...
BalasHapuswalopun emak nya doyan banget Korea Korea an, tapi Fathir inih demen banget nyanyi lagu-lagu nasional lho...entah mengapa...
Kalo nge yutub seneng banget denger lagu dari sabang sampe merauke, Indonesia Raya, Garuda Pancasila...mungkin karena irama nya mars dan berdentum dentum gimana kali yah...hihihi...
Mengejar pengakuan orang lain memang akan sangat melelahkan bang, dan menurutku sih pekerjaan yang sia sia dan tiada guna juga sih...
Selalu dalaaaam tulisannya Mas ... moga menang yaa
BalasHapusBtw, ajarin dong caranya berpikir dalam hati ... bukannya berpikir itu dalam otak?
Bangga juga berarti harus menjaga. Seperti pulau dan kebudayaan bangsa Indonesia yang luar biasa banyaknya. He... kalau sudah diklaim orang, baru berbondong-bondong mengakui milik kita. Lah sebelumnya kemana???
BalasHapusGood luck buat ngontesnya Uncle :)
Kebanggaan itu merupakan hal yang biasa bagi orang, namun sangat berharga bagi diri kita. Dan perpedaannya sangat tipis sekali, seperti cerita dalam artikel ini, bngg dengan suatu proses yang dilalui telah berhasil dan memnghasilkan apa yang menjadi suatu impian yang dapat dinyatakan.
BalasHapusSemoga sukses untuk kontesnya ya Kang.
Salam,
Bangga berangkat dari bagaimana sebuah proses berjalan.....sip Mas setuju. selamat terus berproses dan sukses dengan kontes yang diikuti. salam
BalasHapusbangga buatku itu kl tiap hari bisa pit pitan mas keliling desa gn suami :D
BalasHapusSaat bangga itu diucap di bibir, masih dipertanyakan keabsahannya. Yang paling sip memang meletakkan rasa bangga itu di hati, kemudian membuktikannya dengan konsistensi sikap. :D
BalasHapusbegitulah masyarakat kita yang mulai tergerus dengan semangat yang bukan berasal dari negeri ini,jadi seakan-akan lupa akan jati diri nya yang sesungguhnya
BalasHapusAku bangga menjadi anak Indonesia (gtu kta Nadia) mas.. Setuju lah sama semua tulisanmu mas jd malu sama driku yg seringnya ga bangga sana Indonesia :(
BalasHapusSeperti halnya seorang sahabat sejati, bangga itu harus ada apa pun kondisi yang terjadi. <--- suka banget kalimat ini, Kang Lozz ^^b
BalasHapuskomentar komentarnya udah pada ngena
BalasHapusterus saya harus bilang apa nich????